Guru Yang Dimuliakan Dalam Pidato, Dilelahkan Dalam System
Prof. Dr. Emilda Sulasmi, M.Pd. Guru Besar Bidang Manajemen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara--
Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Guru menjadi pihak yang paling mudah disalahkan ketika kualitas pendidikan menurun, tetapi paling lambat diprioritaskan ketika berbicara soal dukungan struktural.
Situasi ini semakin paradoksal ketika musim politik tiba. Pendidikan gratis hampir selalu menjadi janji kampanye yang populer. Politisi berlomba menghadirkan slogan sekolah gratis, bantuan pendidikan, atau peningkatan kualitas SDM. Tetapi dalam praktiknya, pembiayaan pendidikan sering kali masih membebani masyarakat dan tenaga pendidik itu sendiri.
Konsep “pendidikan gratis” akhirnya lebih sering berhenti pada penghapusan biaya formal siswa, sementara biaya tersembunyi pendidikan tetap tinggi: seragam, transportasi, perangkat belajar, les tambahan, hingga pungutan informal. Di sisi lain, guru tetap menghadapi keterbatasan fasilitas dan kesejahteraan yang stagnan.
Paulo Freire (1970) pernah mengingatkan bahwa pendidikan tidak pernah netral; ia selalu terkait dengan struktur kekuasaan dan kepentingan politik. Dalam konteks Indonesia, pendidikan kerap dijadikan komoditas elektoral—menarik dalam pidato, tetapi tidak selalu konsisten dalam kebijakan jangka panjang.
Karena itu, membicarakan krisis guru sesungguhnya bukan sekadar membahas profesi tertentu. Ia menyangkut arah pembangunan manusia Indonesia secara keseluruhan. Negara tidak mungkin menghasilkan generasi unggul jika profesi guru terus berada dalam ketidakpastian struktural.
Yang dibutuhkan bukan hanya rekrutmen baru atau perubahan kurikulum berikutnya, melainkan reformasi menyeluruh terhadap ekosistem profesi guru: kepastian karier, distribusi yang adil, pelatihan berkelanjutan, pengurangan beban administratif, dan peningkatan kesejahteraan yang nyata.
Sebab selama guru hanya dimuliakan dalam slogan tetapi dilelahkan dalam sistem, maka krisis pendidikan Indonesia akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda-beda.(**)
Prof. Dr. Emilia Sulasmi, M.Pd.
Guru Besar Bidang Manajemen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
