Unived Evaluasi Security Kampus

Unived Evaluasi Security Kampus

BENGKULU, BE - Tragedi berdarah di kampus Universitas Dehasen (Unived) Bengkulu, Sabtu (11/1) lalu yang menyebabkan satu orang tewas sangat memprihatinkan. Kondisi ini membuat jajaran Rektorat Unived melakukan evaluasi terhadap security yang menjaga kampus selama ini. Proses perekrutan tenaga pengamanan kampus akan diperketat. \"Kita sangat menyangkan sekali dengan kejadian kemarin. Rencananya kita untuk satpam kita akan mengadakan seleksi, dan kita ambil sekitar 4 orang satpam,\"kata Rektor Unived Prof Sigit Nugroho MSc PhD saat ditemui BE, kemarin. Menurut rencana personel satpam baru akan mengantikan tenaga satpam yang diduga terlibat dalam pembunuhan Yengki Novalianto (24).\"Jumlah satpam kita di kampus Unived ini sekitar 14 satpam.Rata-rata semuanya itu sudah ditahan Polisi. Maka dengan itu kita akan ngambil satpam baru,\"ujarnya. Menurut Sigit, pola perekrutan satpam nanti dilakukan profesional melalui beberapa tahapan.  Setiap satpam harus memiliki kemampuan fisik dan mental yang handal. Tugas mereka tidak hanya menjalankan fungsi keamanan (security), melainkan juga harus mampu melaksanakan fungsi keselamatan dan pelayanan yang prima. \"Nanti untuk penerimaan satpam kita ngambil benar-benar yang ada pendidikan satpamnya, yang mengerti tugas satpam betul. Karena selama ini kita satpam kita itu tidak ada pendidikan satpamnya,\"jelasnya. Lebih lanjut, Sigit, menjelaskan satpam yang handal tidak cukup hanya bermodal badan kekar dan menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah keamanan. Tapi lebih pada kecakapan menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Satpam juga harus mengedepankan sisi kemanusiaan yang berkualitas serta didukung peralatan yang memadai dalam menjalankan tugas. \"Untuk jadi satpam itu tidak hanya badan besar, tapi juga harus bisa menyelesaikan masalah,\"ungkapnya. Menwa Amankan Kampus Semenjak tragedi berdarah itu terjadi, pihak Unived telah meminta bantuan kepada Resimen mahasiswa (Menwa) Unived sebanyak 25 orang.  ara Menwa saat ini bertugas untuk mengamankan lingkungan kampus. Pasalnya dari 14 satpam saat ini sedang sibuk dimintai keterangan soal tragedi tersebut. \"Alhamdulillah mereka sekarang mau,\"ungkap Sigit. Disinggung soal pemecatan para satpam yang terlibat dalam pembunuhan, ia belum bisa mengungkapkan. Pasalnya pihaknya sejauh ini masih mempelajari pelanggaran yang dilakukan para satpam tersebut. \"Yang jelas kita sekarang mereka kita nonaktifkan dulu, kalau masalah pemecatan kita belum tahu. Yang jelas kita berharap untuk kedepanya ini tidak terjadi lagi,\"jelasnya. Merata Berbaju Batik Bentrok yang berujung tewasnya karyawan Telkom Yengki Novalianto (24) sudah sempat diantisipasi kepolisian. Ini terlihat dari video amatir rekaman saksi mata kejadian yang beredar, ada dua polisi berseragam preman sambil menenteng senjata api sempat meminta kelompok Yengki untuk keluar dari area kampus. Satu orang mengenakan kaos dan celana pendek, satu orang lagi mengenakan kemeja kotak-kotak dan celana jeans. Kala itu, kelompok korban ini tengah duduk-duduk di area kampus Unived. Namun belum sempat mereka keluar, tiba-tiba data sejumlah massa dari dalam gedung kampus langsung mengejar dan menyerang kelompok Yengki tersebut. Mereka yang mengejar ini mayoritas berseragam batik. Kelompok ini membawa kayu, balok dan parang. \"Memang itu anggota. Pada saat itu, anggota akan mendamaikan antara kedua belah pihak yang berkelahi. Tapi pada saat penusukan berlangsung anggota tersebut tidak melihat siapa yang melakukan, karena orang yang berada di sana banyak,\" jelas Kasat Reskrim Polres Bengkulu AKP Amsaludin SSos. Sejauh ini, tersangka dalam kasus tersebut ditetapkan 5 orang. Diantaranya 4 orang satpam kampus dan 1 orang sopir.  \"Yang pakai baju batik pada saat itu semuanya adalah satpam, dan salah satunya supir,\" tegas Kasat Reskrim. (618/cw4)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: