Skrining Genetik: Ini yang Perlu Bumil Ketahui

Banyak yang pada akhirnya melakukan skrining genetik begitu sudah ketahuan hamil.--
BENGKULUEKSPRESS.COM - Pemeriksaan kehamilan merupakan agenda wajib bagi setiap ibu hamil. Dengan pemeriksaan yang rutin, dokter bisa memantau kondisi kesehatan ibu dan bayi dalam kandungan. Akan tetapi, berapa kali sih Pemeriksaan kehamilan perlu dilakukan?
Pemeriksaan kehamilan terdiri dari perawatan kesehatan prenatal atau antenatal care (sebelum melahirkan) dan postpartum (setelah melahirkan). Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk memastikan kondisi ibu dan bayinya sehat selama kehamilan maupun persalinan dan setelahnya.
BACA JUGA:Agar Maksimal Melaksanakan Ibadah Puasa , Lakukan 12 Hal Ini Saat Menyambut Ramadhan
Selain USG, ada tes lain yang penting dilakukan saat hamil, yaitu tes skrining genetik. Tes ini juga sama pentingnya dengan USG, terutama pada ibu hamil dengan kriteria tertentu, karena bertujuan untuk mendeteksi adanya kelainan kromosom pada janin.
skrining genetik dapat dilakukan sebelum atau sewaktu hamil. Tes ini berguna untuk mendeteksi adanya kelainan kromosom atau genetik yang dapat diturunkan dari ibu dan ayah ke bayinya.
BACA JUGA:3 Produk Amonia Ini Perlu Diwaspadai Oleh Ibu Hamil
Pentingnya Skrining Genetik dalam Kehamilan
Banyak yang pada akhirnya melakukan skrining genetik begitu sudah ketahuan hamil. Alasannya adalah untuk mengetahui ada tidaknya risiko janin menderita kelainan genetik atau penyakit tertentu. Kelainan atau penyakit yang bisa terdeteksi melalui skrining genetik, di antaranya Down syndrome, sindrom CHARGE, kanker, hemofilia, dan thalasemia.
Dalam prosedur skrining genetik, pertama-tama dokter akan mengambil sampel darah ibu hamil untuk melihat kemungkinan adanya gangguan. Jika dari tes darah tersebut ditemukan adanya gangguan atau kelainan, dokter akan merekomendasikan dua prosedur skrining genetik lanjutan, yaitu:
Amniocentesis
Amniocentesis merupakan prosedur skrining genetik yang dilakukan saat usia kehamilan 15–22 minggu. Prosedur ini dilakukan dengan cara mengambil sedikit air ketuban sebagai sampel. Melalui pemeriksaan ini, dapat diketahui apakah janin mengalami kelainan genetik tertentu. Selain untuk mendeteksi kelainan genetik, amniocentesis juga dapat dilakukan untuk mengetahui jenis kelamin janin.
BACA JUGA:Menghilangkan Komedo dengan Pasta Gig? Ini Fakta yang Harus Diketahui
Chorionic virus sampling (CVS)
Tes skrining genetik ini umumnya direkomendasikan saat usia kehamilan 10–13 minggu. Prosedur CVS dilakukan dengan cara mengambil sedikit jaringan pada plasenta. Pada sebagian ibu hamil, CVS dapat menimbulkan efek samping berupa kram perut, perdarahan, atau infeksi.
Yang Disarankan untuk Melakukan Skrining Genetik
Skrining genetik bukanlah tes rutin pada pemeriksaan kehamilan. Tes ini biasanya hanya disarankan bagi ibu hamil atau calon ibu hamil dengan kriteria seperti berikut:
- Berusia di atas 34 tahun karena risiko untuk melahirkan bayi dengan kelainan genetik cenderung lebih besar
- Pernah melakukan tes skrining dan hasilnya menunjukkan ada kemungkinan kelainan genetik
- Memiliki anggota keluarga yang menderita kelainan genetik atau penyakit bawaan
- Telah memiliki anak yang menderita cacat lahir atau kelainan genetik
- Pernah mengalami keguguran berulang
- Pernah melahirkan bayi dalam kondisi meninggal dengan tanda kelainan genetik
BACA JUGA:Kunci Datangnya Rezeki, Syekh Ali Jaber: Insya Allah Tak Salah Alamat
Nah, jika merupakan ibu hamil atau calon ibu hamil yang termasuk dalam kriteria di atas, sangat disarankan untuk melakukan skrining genetik.(bee)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: