Dibangun Tahun 1660, Istana Kesultanan Tidore di Maluku Utara Sangat Megah dan Sarat Makna

Dibangun Tahun 1660, Istana Kesultanan Tidore di Maluku Utara Sangat Megah dan Sarat Makna

Arsitektur Kedaton Kie disebut jiko serabi dimana jiko artinya memanjang seperti pulau/gunung dan surabi bermakna ruang tunggu--

BENGKULUEKPSRESS.COM -  Maluku Utara merupakan salah satu daerah di Indonesia bagian Timur yang kaya akan keindahan alam dan sejarahnya. Salah satu bangunan bersejarah di Maluku Utara adalah keraton kesultanan Tidore. Keraton di Tidore ini juga dikenal dengan nama Kedaton Kie Kesultanan Tidore. Diketahui bahwa Kesultanan Tidore merupakan kerajaan Islam yang merasakan masa kejayaannya pada abad ke-16 hingga ke-18.

BACA JUGA:Jangan Anggap Remeh! Inilah Manfaat Kunyit untuk Kulit yang Banyak Tidak Diketahui

Menurut tradisi sejarah, kerajaan ini memiliki akar yang sama dengan Kerajaan Ternate. Pasalnya, Syahjati atau Muhammad Naqil, yang mendirikan Kerajaan Tidore adalah saudara Mashur Malamo, pendiri Kerajaan Ternate. Ketika didirikan pada abad ke-11, kerajaan ini belum bercorak Islam. Agama Islam baru masuk dan berkembang pada akhir abad ke-15.


Kerajaan Tidore kemudian mencapai masa keemasan pada sekitar abad ke-18, pada periode kekuasaan Sultan Nuku. Di bawah kekuasaannya, Tidore berkembang pesat hingga disegani oleh bangsa Eropa. Sejarah singkat berdirinya Kerajaan Tidore Sejak awal didirikan pada 1081 hingga masa pemerintahan raja keempat, agama dan letak pusat kekuasaan Kerajaan Tidore belum dapat dipastikan.

BACA JUGA:Begini Cara Meluruskan Rambut Secara Alami dan Murah

Barulah pada periode pemerintahan Kolano Balibunga, sumber sejarah Kerajaan Tidore mulai sedikit menguak lokasinya. Pada 1495, diketahui bahwa kerajaan ini berpusat di Gam Tina dengan Sultan Ciriliati atau Sultan Djamaluddin sebagai rajanya.

BACA JUGA:Inilah 12 Jenis Pisang di Indonesia yang Terkenal Kelezatanya

Sultan Ciriliati, yang masuk Islam berkat dakwah seorang ulama dari Arab, diketahui sebagai raja atau kolano pertama yang memakai gelar sultan. Dengan masuknya Islam ke Kerajaan Tidore, berbagai aspek kehidupan masyarakat baik di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budayanya pun ikut terpengaruh. Sepeninggal Sultan Ciriliati, singgasana diwariskan ke Sultan Al Mansur (1512-1526 M), yang kemudian memindahkan ibu kota kerajaan ke Tidore Utara, lebih dekat dengan Kerajaan Ternate.

Dalam sejarahnya, Kerajaan Tidore memang mengalami beberapa kali pemindahan pusat pemerintahan karena berbagai sebab. Letak ibu kotanya yang terakhir adalah di Limau Timore, yang kemudian berganti nama menjadi Soa-Sio hingga saat ini.

BACA JUGA:Dulunya Rumah Sultan, Masjid Kuno di Kota Sambas Ini Dibangun Pakai Kayu Belian

Kerajaan ini menguasai sebagian besar Pulau Halmahera Selatan, Pulau Seram, Pulau Buru, dan sejumlah pulau lainnya. Lokasi istana berada di pusat kta Soasio dan dibangun sekitar tahun 1660 masehi. Dulunya Kedaton Kie berada di Desa Toloa yang dikenal dengan Kadaton Biji Negara (anak negeri). Istana ini merupakan tempat tinggal sekaligus tempat bagi Sultan Tidore menjalankan pemerintahannya.

BACA JUGA:Sakit Maag Bisa Sembuh Tanpa Minum Obat, dr Zaidul Akbar Sarankan Konsumsi Makanan Ini

Berdasarkan buku Amin Faruk, Perdana menteri Tidore, Kedaton kemudian dibangun lebih luas dan permanen pada tahun 1812 pada masa Sultan Muttahiddin Muhammad dan dilanjutkan sampai 1856 pada masa Sultan Ahmad Syaifuddin. Nama Limau Timore kemudian berubah nama menjadi Soa Sio seperti sekarang.


Naman karena politik Belanda dan konflik Kedaton dihancurkan pada tahun 1912 pada masa Sultan Syahjuan. Baru pada tahun 1997 dimulai pembangunan kembali atas dorongan dari Sultan Djafar Syah, dan dibangun dari tahun 2004 dan selesai pada Maret 2010.Kini, bangunan bersejarah ini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Maluku Utara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: