Biaya Pelabuhan Bengkulu Termahal

Biaya Pelabuhan Bengkulu Termahal

\"AriBENGKULU, BE - Satu persatu persoalan yang mendera Pelabuhan Pulau Baai mencuat. Setelah kapal-kapal besar yang bisa masuk tapi tak bisa keluar dengan bobot muatan melebihi 33 ribu ton, kini giliran fasilitas penunjang pelabuhan yang dipersoalkan. Seperti diungkapkan Direktur PT Kanaka, Noprizal selaku agen pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai. Ia mengungkapkan salah satu fasilitas yang paling mengkhawatirkan adalah tambatan kapal khususnya di Dermaga Samudera untuk memuat batu bara. Kondisinya kini banyak yang rusak dan membahayakan pengguna jasa pelabuhan. \"Dolphin-dolphin yang ada di dermaga pelabuhan khususnya di dermaga batu bara semuanya sudah ambrol dan itu sangat berbahaya,\" keluhnya. Terlebih lagi, pada saat memuat batu bara, kapal dalam kondisi bergerak maju mundur untuk menyesuaikan dengan conveyor batu bara. Dan jika kapal tidak ditambatkan saat melakukan muat tentunya sangat berbahaya. \"Pengguna jasa pelabuhan telah beberapa kali meminta bahkan menyurati Pelindo untuk segera diperbaiki, namun belum ada tanggapan,\" katanya lagi. Ia pun menyampaikan saat ini khususnya Pelindo II sudah memonopoli semua kegiatan yang ada di pelabuhan. Padahal, tambah Noprizal, prinsipnya Pelindo hanya menyiapkan fasilitas, sedangkan yang melakukan pembongkaran adalah tugas pihaknya. Kenyataan di lapangan sekarang justru Pelindo sudah mengambil alih semuanya. \"Saat ini kita yang melakukan kegiatan tetap membayar kepada Pelindo. Kenyataan yang ada Pelindo mengambil alih semuanya,\" tukasnya mengibaratkan Pelindo mengambil hak masyarakat kecil khususnya mereka agen pelayaran. Sementara itu Kepala Operasional PT Core Mineral Indonesia, Wisuadas mengatakan Pelabuhan Pulau Baai termasuk pelabuhan dengan biaya operasi termahal di Indonesia. Ia pun merinci biaya operasi yang dibayarkan para pengusaha batu bara di Pelabuhan Pulau Baai. Di antaranya, biaya alur sekitar US$ 6/ton, biaya pelabuhan sampai US$ 53 ribu sedangkan biaya conveyor sebesar Rp 25 ribu/ton. \"Bila dibandingkan dengan pelabuhan lain tidak dikenakan biaya alur. Hanya biaya labuh sekitar US$ 25 ribu sampai US$ 26 ribu tergantung dengan jenis dan besar kapal saja,\" bebernya. Ironisnya, dengan besarnya biaya yang dibebankan kepada pengusaha, justru tidak berbanding lurus dengan pelayanan maupun fasilitas yang diberikan. \"Dengan tingginya biaya serta lambatnya proses membuat kita kesulitan membawa kapal dari luar,\" tuturnya. Kondisi ini kian menyulitkan kalangan pengusaha batu bara yang telah berinvestasi di Bengkulu. Sebab, banyak pengusaha kapal yang enggan mendatangkan kapalnya ke Bengkulu. \"Saat mereka tahu akan ke Bengkulu mereka sering menolak karena permasalah tersebut,\" jelas Wisuadas. Sementara itu General Manager Pelindo II Bengkulu, Nurhikmat saat dihubungi melalui telepon mengatakan terkait dengan biaya masuk pelabuhan sudah sesuai dengan kesepakatan dengan kalangan pengusaha batu bara dalam wadah APBB. Ia juga mengakui jika hanya di Bengkulu yang memberlakukan penarikan biaya alur. \"Kalau terkait dengan biaya semua sudah sesuai dengan kesepakatan APBB. Dan pemberlakuan biaya alur tersebut karena hanya kita yang melakukan pengerukan sedalam itu sedangkan pelabuhan lain tidak,\" jelasnya. Ia juga menyampaikan biaya yang ada di Pelabuhan Pulau Baai tidak bisa dibandingkan dengan pelabuhan lainnya karena kondisinya juga berbeda. Terkait dengan informasi adanya sebagian dolphin yang tidak berfungsi atau sudah ambruk, ia tidak menampiknya. Namun menurutnya hal tersubut tidak masalah karena masih banyak dolphin lain yg bisa digunakan. Ditambah lagi Pelindo juga menyediakan tug boot untuk membantu kapal yang sandar. \"Masalah keselamatan adalah yang pertama kita lakukan, meskipun ada beberapa dolphin yang rusak kan masih banyak yang lain, selain itu kita juga sertakan tug boot,\" jelasnya.(251)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: