Divonis Kanker Payudara Stadium 1, Penyintas Ini Ceritakan Momen Paling Mengguncang

Jumat 30-10-2026,11:16 WIB
Reporter : Gina Arisandi
Editor : Rajman Azhar

Dari sisi pembedahan, Dokter Spesialis Bedah Onkologi MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Denni Joko Purwanto, Sp.B (K) Onk, menjelaskan bahwa tindakan operasi juga disesuaikan dengan kondisi pasien.

Pilihan operasi antara lain mastektomi, yaitu pengangkatan seluruh jaringan payudara, serta Breast Conserving Surgery (BCS), yaitu operasi yang mempertahankan sebagian jaringan payudara.

Perkembangan teknologi dan metode bedah memberikan lebih banyak pilihan penanganan. Pada pasien yang memenuhi kriteria medis, pendekatan yang mempertahankan jaringan payudara dapat dipertimbangkan.

Kolaborasi dengan tim bedah plastik dan rekonstruksi juga menjadi bagian penting dalam mempertimbangkan bentuk payudara, fungsi tubuh, serta kualitas hidup pasien setelah operasi.

“Perkembangan teknologi dan metode bedah memberikan lebih banyak pilihan penanganan. Kolaborasi dengan tim bedah plastik dan rekonstruksi juga penting untuk mempertimbangkan bentuk payudara dan kualitas hidup pasien setelah operasi,” ujar Denni.

Ia menambahkan, perkembangan penanganan kanker juga mencakup pendekatan de-eskalasi, yakni menurunkan intensitas tindakan atau terapi tertentu apabila memungkinkan secara medis. Tujuannya adalah mengurangi dampak dan efek samping pengobatan tanpa mengabaikan kebutuhan untuk mengendalikan penyakit.

Denni menegaskan, semakin dini kanker ditemukan, semakin besar peluang pasien untuk mendapatkan pilihan penanganan yang sesuai. Karena itu, deteksi dini perlu diikuti pemeriksaan diagnostik yang tepat agar dokter dapat menentukan tindakan berdasarkan kondisi masing-masing pasien.

Pemulihan Tidak Berhenti Setelah Operasi

Perjalanan pasien kanker payudara tidak berakhir ketika operasi atau rangkaian pengobatan selesai. Dampak terapi terhadap fungsi tubuh, kekuatan otot, gerak bahu, dan kondisi psikologis juga perlu mendapat perhatian.

Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik (Subspesialis Kardiorespirasi) MRCCC Siloam Semanggi, dr. Anita Ratnawati, Sp.KFR (K), menjelaskan bahwa rehabilitasi medik dapat dilakukan sejak sebelum operasi hingga setelah pengobatan, dengan program yang disesuaikan berdasarkan kondisi pasien.

Rehabilitasi tidak hanya bertujuan membantu pemulihan fisik, tetapi juga mengatasi kelelahan dan perubahan suasana hati yang dapat muncul selama proses perawatan.

Setelah operasi, pasien dapat mengalami keterbatasan gerak bahu, penurunan kekuatan otot, hingga pembengkakan lengan atau limfedema. Karena itu, latihan dan pendampingan perlu dirancang sesuai kebutuhan masing-masing pasien.

Anita menjelaskan tiga aspek penting dalam rehabilitasi, yaitu latihan pernapasan (breathing), latihan kekuatan (strengthening), dan latihan ketahanan (endurance).

“Breathing training tujuannya untuk relaksasi. Tidak hanya untuk fisik, tapi juga pikiran. Strength training sangat penting untuk menjaga massa otot untuk mencegah sarcopenia dan frailty,” jelasnya.

Latihan pernapasan dapat membantu relaksasi, sedangkan latihan kekuatan mendukung pemeliharaan massa otot dan fungsi tubuh. Sementara itu, latihan ketahanan membantu pasien meningkatkan kemampuan untuk kembali beraktivitas secara bertahap.

Anita menekankan, pemulihan membutuhkan tujuan yang jelas dan berkelanjutan. Selesainya pengobatan kanker tidak selalu berarti seluruh dampaknya langsung hilang.

Kategori :