Divonis Kanker Payudara Stadium 1, Penyintas Ini Ceritakan Momen Paling Mengguncang

Jumat 30-10-2026,11:16 WIB
Reporter : Gina Arisandi
Editor : Rajman Azhar

Untuk memulihkan kondisi tubuh, ia mulai berolahraga secara bertahap.

Awalnya, ia memilih berenang karena aktivitas itulah yang mampu dilakukannya saat itu. Ia kemudian mencoba pilates untuk memperbaiki postur tubuh yang sempat miring.

Seiring membaiknya kondisi fisik, Flavia meningkatkan intensitas latihan di pusat kebugaran bersama personal trainer (PT). Ia juga menjalani fisioterapi dan kalistenik.

Kini, aktivitas fisiknya bahkan kembali meningkat. Sepanjang 2026, ia sudah dua kali naik gunung.

Perjalanan tersebut membuat Flavia memahami bahwa pemulihan setelah kanker membutuhkan proses panjang dan tidak hanya bergantung pada selesainya pengobatan.

“Boleh kok mengasihani diri sendiri, tapi jangan terlalu lama. Jangan kehilangan harapan, sekecil apa pun itu. Harapanlah yang membuat kita berani mengambil keputusan. Kanker bukanlah akhir dari chapter hidup kita,” ujarnya.

93.236 Kasus Baru Kanker Payudara di Indonesia

Pengalaman Flavia juga menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat terhadap kanker payudara. Berdasarkan data GLOBOCAN 2024 yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, Indonesia mencatat 93.236 kasus baru kanker payudara dan 38.012 kematian akibat penyakit ini.

Kanker payudara menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di Indonesia. Tingginya angka kasus tersebut menegaskan pentingnya deteksi dini, diagnosis yang tepat, serta penanganan yang disesuaikan dengan karakteristik penyakit dan kondisi setiap pasien.

Tim Kerja Penyakit Kanker Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Uswatun Hasanah, M.Epid, mengatakan keterlambatan deteksi dan diagnosis masih menjadi tantangan dalam penanganan kanker payudara di Indonesia.

“Sebagian besar kasus kanker payudara ditemukan dalam stadium lanjut, sehingga angka keberhasilan pengobatan pun menurun,” ujarnya.

Menurut Uswatun, persoalan yang masih dihadapi antara lain keterbatasan fasilitas layanan dan belum meratanya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini. Akibatnya, sebagian pasien baru mendatangi fasilitas kesehatan ketika kanker sudah berada pada stadium lanjut.

Kementerian Kesehatan telah menetapkan target agar 60 persen kasus kanker payudara dapat ditemukan pada stadium awal. Namun, capaian nasional masih jauh dari sasaran tersebut.

Pada 2025, proporsi kasus yang ditemukan pada stadium awal baru mencapai 10 persen. Sementara itu, hingga 30 September 2026, angkanya tercatat sekitar 16,19 persen.

Uswatun mengimbau perempuan untuk lebih peduli terhadap kesehatan payudara dan memanfaatkan fasilitas pemeriksaan yang tersedia.

Deteksi kanker payudara dapat dilakukan di Puskesmas melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Perempuan berusia 30–69 tahun dapat memanfaatkan layanan skrining yang tersedia. Apabila ditemukan hasil abnormal, pasien akan dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut untuk pemeriksaan lebih mendalam.

Kategori :