Kesadaran Flavia terhadap kanker sebenarnya sudah terbentuk jauh sebelum dirinya didiagnosis.
Ia memiliki anggota keluarga yang meninggal akibat kanker sehingga berusaha menjaga kesehatan dengan melakukan pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU) setiap tahun sejak usia 25 tahun.
Namun, rutinitas tersebut sempat terhenti selama dua tahun ketika ia menjalani kehamilan dan menyusui.
Suatu hari, saat melakukan SADARI, Flavia merasakan benjolan keras dengan bentuk yang tidak rata di payudara kirinya.
Ia tidak mengabaikan temuan tersebut dan segera mendatangi dokter untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut, termasuk biopsi.
Awalnya, Flavia masih berusaha tenang karena ada kemungkinan benjolan tersebut merupakan tumor jinak.
Akan tetapi, hasil biopsi memastikan bahwa benjolan itu adalah kanker payudara stadium 1.
Diagnosis tersebut menjadi awal perjalanan panjang yang harus ia lalui, mulai dari kemoterapi, operasi, hingga pemulihan fisik dan mental.
Di tengah pengobatan, Flavia berusaha mencari informasi medis dari sumber yang dapat dipercaya.
Ia juga berkonsultasi dengan beberapa dokter untuk mendapatkan pendapat kedua serta membangun dukungan bersama orang-orang yang pernah mengalami kondisi serupa.
Menurutnya, dukungan dari sesama penyintas memiliki arti tersendiri karena mereka memahami pengalaman yang mungkin sulit dijelaskan kepada orang lain.
Selain menjalani pengobatan, Flavia melakukan meditasi selama kemoterapi untuk membantu menjaga kondisi mental dan membuatnya lebih mindful.
Perjuangannya tidak berhenti setelah operasi. Ia sempat mengalami keterbatasan gerak hingga tidak bisa mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Padahal, operasi yang dijalaninya merupakan Breast Conserving Surgery (BCS), yaitu tindakan yang mempertahankan sebagian jaringan payudara.
Ukuran tumornya masih kecil dan tidak ditemukan penyebaran.
Flavia juga tidak menjalani pengangkatan kelenjar getah bening di ketiak.