“Kita semua perlu berkolaborasi menyampaikan bagaimana pentingnya deteksi dini kanker payudara. Deteksi kanker payudara bisa dilakukan di Puskesmas melalui Cek Kesehatan Gratis. Wanita usia 30–69 tahun akan mendapatkan skrining atau deteksi kanker payudara. Jika ditemukan kasus yang abnormal maka segera dirujuk ke FPKTL,” tutur Uswatun.
Ia menambahkan, Kemenkes juga telah mengeluarkan pedoman tata laksana kanker payudara sebagai panduan bagi tenaga medis dalam menangani pasien.
Sementara itu, Hospital Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Adityawati Ganggaiswari, M.Biomed, MARS, mengingatkan bahwa deteksi dini tidak selalu harus dimulai dengan pemeriksaan menggunakan alat medis.
Cara sederhana yang dapat dilakukan perempuan adalah SADARI secara rutin setiap bulan. Pemeriksaan ini membantu seseorang mengenali perubahan pada payudara sehingga dapat segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila menemukan sesuatu yang tidak biasa.
Sebagai rumah sakit khusus kanker, MRCCC Siloam Semanggi juga memiliki tanggung jawab untuk terus meningkatkan edukasi mengenai kanker dan mendorong masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan ketika menemukan gejala yang mencurigakan.
Diagnosis Menentukan Pilihan Pengobatan
Selain deteksi dini, penentuan diagnosis yang tepat menjadi bagian penting dalam perjalanan pengobatan kanker payudara. Setiap pasien memiliki karakteristik penyakit dan kebutuhan berbeda sehingga penanganannya tidak dapat disamaratakan.
Chief Executive Officer MRCCC Siloam Semanggi, Tries Nainggolan, mengatakan penanganan kanker membutuhkan kolaborasi berbagai spesialisasi medis, mulai dari penegakan diagnosis, pemilihan terapi, tindakan operasi, hingga pemulihan.
“Setiap pasien memiliki perjalanan perawatan yang berbeda. Karena itu, kami berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi multidisiplin agar setiap pasien mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, tidak hanya dari sisi pengobatan, tetapi juga kualitas hidupnya,” ujar Tries.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, menjelaskan bahwa kanker payudara memiliki beberapa subtipe, antara lain Luminal A, Luminal B, HER2-positif, dan triple negative.
Karakteristik tumor serta stadium penyakit menjadi pertimbangan dalam menentukan terapi yang sesuai bagi setiap pasien.
Menurut Jeffry, biopsi merupakan pemeriksaan penting untuk memastikan diagnosis sekaligus mengetahui jenis dan subtipe kanker. Informasi tersebut menjadi dasar bagi dokter dalam menyusun rencana pengobatan.
Ia menyayangkan masih adanya anggapan bahwa kanker merupakan vonis mati. Diagnosis kanker memang dapat memengaruhi kondisi psikologis pasien, tetapi dukungan yang diberikan kepada mereka juga perlu memperhatikan kesiapan mental masing-masing.
“Beri waktu saat seseorang sedang kalut. Kadang kita ingin beri semangat, tapi tanpa disadari malah menjatuhkan mental. Cukup kasih waktu dan temani dia,” ujarnya.
Jeffry mengibaratkan kanker seperti rayap yang perlu diketahui jenis dan penyebarannya sebelum penanganan ditentukan. Karena itu, pemeriksaan tidak hanya berfokus pada benjolan yang ditemukan, tetapi juga perlu memastikan stadium dan kemungkinan penyebaran penyakit.
Pada kondisi tertentu, pasien dapat menjalani terapi terlebih dahulu sebelum operasi. Pilihan tersebut ditentukan berdasarkan karakteristik tumor, stadium, dan kondisi klinis masing-masing pasien.