Potret Driver Ojek Online Bengkulu: Antara Kerja Keras dan Mencari Keuntungan
Potret driver ojek online saat bekerja -foto: istimewa-
OPINI - Saya sering melewati sekumpulan driver ojek online (ojol) yang mangkal di depan salah satu minimarket di Kota Bengkulu. Setiap kali lewat, potret yang dijumpai hampir selalu ada, ada wajah yang letih namun masih menyimpan semangat untuk bekerja, ada yang tertunduk sembari duduk di warung-warung kecil atau di halte yang tersedia. Serta tak luput dari menatap layar ponsel masing-masing.
Saya pernah iseng bertanya kepada salah satunya. Katanya, dalam sehari ia bisa menunggu dua hingga tiga jam hanya untuk dapat dua atau tiga orderan. Driver ojol makin banyak, penumpang segitu-gitu aja,” ujarnya disela percakapan. Ia bukan mengeluh ia hanya menyampaikan fakta.
Dari cerita itu terselip sebuah fakta tersendiri. Data RRI Bengkulu September 2024 mencatat ada sekitar 1.500 driver Maxim yang aktif di kota ini, sementara kapasitas konsumen tidak bertambah apalagi sepadan. Di tingkat nasional, riset LIPS tahun 2024 menemukan bahwa rata-rata pendapatan driver ojol hanya Rp2,4 juta per bulan, jauh di bawah rata-rata pengeluaran mereka yang mencapai Rp5,7 juta. Artinya, banyak dari mereka hidup dalam defisit setiap bulan.
Ini bukan kegagalan individu, ini adalah hasil dari cara sistem yang dirancang oleh platform dan terus membuka pendaftaran pengemudi baru karena semakin banyak mitra berarti semakin besar kapasitas layanan tanpa peduli apakah pendapatan per orang ikut turun.
Disisi lain, yang membuat saya tidak habis pikir adalah bagaimana hubungan kerja ini dikemas. Driver ojol bukan karyawan tapi mereka disebut “mitra”. Kata yang terdengar setara, padahal hampir semua keputusan ada di tangan platform. Tarif, algoritma pembagian orderan, hingga penonaktifan akun. Tidak ada upah minimum, tidak ada jaminan, tidak ada pesangon. Penelitian yang dimuat Tempo mencatat pekerja di sektor ini rata-rata bekerja 12 jam sehari tanpa satu pun regulasi yang melindungi batas waktu itu.
Hal serupa saya lihat pada pedagang kecil yang mulai masuk ke marketplace. Shopee menaikkan komisi pedagangnya menjadi 4,25-8 persen mulai September 2024, Tokopedia menyesuaikan tarifnya di bulan yang sama. Bahkan Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengakui pada Maret 2026 bahwa fee di sejumlah platform kini dilaporkan mencapai 20-25 persen. Bagi pelaku usaha kecil di Bengkulu yang berjualan dengan modal seadanya, angka itu bukan statistik itu selisih antara untung dan tutup toko.
Dari ilmu sosiologi yang saya pelajari, bahwa ketimpangan tidak selalu datang dengan wajah yang jelas. Kadang ia datang dengan nama yang bagus: mitra, fleksibel, digital, modern. Ekonomi platform memang membuka peluang saya tidak menampik itu. Tapi peluang yang membiarkan pengemudi menanggung risiko sendiri, dan pedagang kecil tak punya daya tawar atas komisi yang bisa naik kapan saja, bukan peluang yang adil.
Regulasi perlindungan pekerja gig dan batas komisi yang wajar untuk UMKM bukan permintaan berlebihan. Itu syarat minimum agar pertumbuhan ekonomi digital tidak hanya terlihat besar dari angka, sementara yang kerja paling keras justru paling sedikit menikmati hasilnya.
Penulis : Rosilia Feby adalah mahasiswa Program Studi Sosiologi, Universitas Bengkulu
Sumber opini penulis:
1. RRI Bengkulu : 1.500 driver Maxim, persaingan dan penurunan pendapatan (rri.co.id, 2 September 2024)
2. LIPS Research 2024 : pendapatan rata-rata driver ojol Rp2,4 juta vs pengeluaran Rp5,7 juta/bulan (kompas.id, Februari 2026)
3. Koran Tempo : pekerja gig rata-rata 12 jam/hari tanpa regulasi perlindungan (koran.tempo.co, Januari 2024)
4. Kompas.id : kenaikan komisi Shopee 4,25–8% dan Tokopedia, September 2024
5. Bisnis.com : pernyataan Menteri UMKM soal fee platform hingga 20–25% (bisnis.com, 5 Maret 2026)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
