Pengantin Baru Tewas Terseret Banjir Bandang

Pengantin Baru Tewas Terseret Banjir Bandang

\"ProsesKEPAHIANG, BE - Musibah beruntun terjadi di Kepahiang. Jika sebelumnya beberapa warga di Kecamatan Bermani Ilir rumahnya terkena bencana tanah longsor, kali musibah banjir bandang menerpa warga di Kecamatan Muara Kemumu Kepahiang. Tercatat dari musibah banjir bandang yang terjadi di Talang Inpres, kawasan Air Punggur Kecamatan Muara Kemumu ini sempat membuat hanyut sebanyak 5 pondok milik warga yang berjarak sekitar 300 meter dari aliran sungai. Dua warga yang merupakan pasangan suami isteri pengantin baru penghuni salah satu pondok tersebut tewas akibat hantaman banjir bandang yang diperkirakan tingginya lebih dari lebih dari 1 meter ini. Kedua pasangan yang tewas ini yakni Murlihan (25) dan isterinya Poka (25) yang merupakan, warga asal Talo Selatan, Kabupaten Seluma. \"Banjir bandang ini terjadi pada Senin (17/03) malam sekitar pukul 00.00 WIB, waktu itu saya lagi ngobrol sama almarhum (Murlihan) di teras pondok. Terus air datang besar, bunyinya keras, saya langsung lompat lari, saya tidak tahu lagi almarhum kemana,\" ujar Mahwan, penghuni salah satu pondok, Mahwan, kemarin. Dikatakannya, jarak antara sungai dengan pondok mereka cukup jauh, dan diduga aliran sungai tak mampu melalui jalurnya. \"Hujan kan dari siang, airnya meluap ke pondok kami. Jaraknya jauh dari pondok kami ke sungai itu, ada lebih 300 meter,\" jelasnya. Sementara itu, Evan (37), salah seorang warga yang membantu proses evakuasi korban saat berada di IGD RSUD Kepahiang kemarin, menyampaikan di dekat aliran Sungai Air Punggur tersebut terdapat 5 pondok yang dihuni oleh 7 orang petani. Warga yang berada di talang itu yakni kedua pasangan yang telah meninggal, lalu Murlihan dan Poka, Mahwan, Dani, Wakur, Tia dan Hikman alias Men. \"Ada lima pondok yang hancur semua dibawa air. Yang tinggal di situ ada Pak Tia, Wakur, Dani, Hikman, Mahwan dan kedua suami istri yang hanyut ini,\" jelasnya. Disampaikannya, jasad Poka ditemukan lebih dulu sekitar pukul 06.00 WIB, Selasa (18/03). Sementara, Murlihan ditemukan sekitar pukul 11.30 WIB. \"Kalau yang perempuan ditemukan jam 6.00, jaraknya sekitar 1,5 Km dari pondok. Kalau yang laki-laki ditemukan sekitar jam 11.30, jaraknya malah lebih dekat, sekitar 1 Kilo dari pondoknya,\" jelasnya. Kerahkan 25 Personel Polisi Sementara itu, Wakapolres Kepahiang, Kompol Asep SW SIK menyampaikan dalam pencarian jasad korban musibah banjir bandang ini, pihaknya dibantu Tim SAR, BPBD dan warga di sekitar lokasi tersebut. \"Dalam proses pencarian jasad korban tewas ini, kami mengerahkan 25 orang personel. Setelah berhasil kami temukan, langsung kami evakuasi dan langsung kami bawa ke rumah sakit,\" jelas Asep. Disampaikannya, dari penuturan warga sekitar, dari 5 pondok tersebut sebanyak tiga pondok berpenghuni, dan dua pondok lagi kosong karena ditinggal penghuninya pulang ke Seluma. \"Memang pondok yang didirikan warga disini berdekatan dengan aliran sungai,\" jelasnya. Belum Kategori Bencana Terpisah, Kepala BPBD Kabupaten Kepahiang, Anudin SSos menjelaskan atas musibah banjir bandang yang merenggut nyawa warga ini, pihaknya belum bisa mengkategorikannya sebagai bencana. Namun pihaknya akan melaporkan peristiwa banjir bandang tersebut terlebih dahulu kepada Bupati Kepahiang, Dr Drs H Bando Amin C Kader MM. “Sesuai peraturan, yang menetapkan sebuah kejadian alam itu sebagai bencana adalah kepala daerah. Kami belum bisa mengatakan kejadian ini bencana kalau belum diputuskan kepala daerah,\" ujarnya. Menurut Anudin, pihaknya menaksir kerugian akibat bencana itu sekitar Rp 35 Juta, termasuk ada 98 Kg kopi milik korban banjir. \"Berdasarkan laporan Kades Air Punggur, Hazar Alamsyah, sepasang korban ini punya kopi 98 Kg. Kami taksir kerugiannya sekitar Rp 35 Juta termasuk itu (kopi),\" sampainya . Anudin juga mengatakan, pihaknya juga belum bisa memutuskan akan memberikan bantuan tanggap darurat atas peristiwa itu. \"Kami punya data dari Kades saja. Kalau data dari kades itu, tidak semua pondok berpenghuni, cuma pondok yang ditunggu korban yang meninggal, pondok Wakur dan pondok Mahwan, yang lainnya kosong, ditinggal ke Selatan (Seluma). Data yang kami dapat itu, penghuni talang adalah Murlihan dan Poka, Supran, Mahwan, Dani, Wakur dan Men. Tidak ada Pak Tia dan Ora,\" terangnya. Diduga Masuk Kawasan HL Sementara itu, BPBD Kepahiang masih menyelidiki apakah daerah terkena banjir bandang ini termasuk dalam kawasan hutan lindung (HL) atau tidak. Hal ini untuk mempermudah proses pemberian bantuan tanggap darurat. \"Kami juga akan menyelidiki terlebih dahulu status lahan milik para korban banjir bandang itu apakah dalam HL atau tidak. “Karena kawasan itu bisa jadi masuk kawasan hutan lindung dan mereka ini adalah perambah. Namun, terlepas dari itu, sebagai rasa kemanusian atau sosial kami, kami akan coba memfasilitasi ambulance mengantar jenazah korban ini ke Seluma,\" tandasnya.(505)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: