Wahyu Wiji Wasesa Atasi Pagebluk Merajalela

Wahyu Wiji Wasesa Atasi Pagebluk Merajalela

abiamanyu lah yang berhak menitiskan wiji pengayom di tanah jawa.--

BENGKULUEKSPRESS.COM - Kerajaan di ngarcapada tiba tiba dilanda pagebluk, termasuk negara hastina. Prabu duryodana mengumpulkan mentri mentrinya di paseban agung. hadir patih snegkuni, raja anga karna, dan resi dorna. Raja duryodana bertanya ada gerangan apa ini?kok pagebluk meraja lela?resi dorna menjawab mendapat wangsit dan berkata ada wahyu yang diturunkan dewata di pucak gunung argo piloso berupa wahyu wiji wasesa yang terkandung dalam sebuah tumbuhan bernama tumbuhan mandera kresna. Siapa yang mendapat wahyu itu akan diliputi kesentosaan.

BACA JUGA: Perebutan Pusaka Wahyu Trimanggolo

Raja duryodana gembira dan mengutus patih sengkuni membarengi resi dorna ke argo piloso untuk mengambil wahyu wiji wasesa. kurawa dipersiapkan, prajurit bersenjata hastina berangkat ke argo piloso. Sementara di argo piloso tampaklah resi begawan hanoman menghadap di depanya 3 satria putra pandawa yaitu gatotkaca, wisanggeni dan antareja. Hanoman menyampaikan agar lengkap bisa menggayuh wahyu wiji wasesa harus bisa mengangkat panah dan memanahkannya ke pohon mandero kresna. Tapi untuk itu diminta putra pandawa lengkap dengan menghadirkkan raden abimanyu. Gatotkaca segera melesat mencari abimanyu.

Rombongan hatsina tiba, dan di hadapi oleh antareja dan wisanggeni, rombongan kurawa kocar kacir. Resi dorna mengambi akan bulus, meraga sukma hendak mencuri wahyu. Dalam bentuk sukma resi dorna melihat dua bungkusan, dan dia ambil yang terbagus. Lalu dibawa pulang dengan keyakinan wahyu telah didapat. Pasukan kurawa dimundurkan kembali ke kerajaan.

BACA JUGA:Sumantri dan Sukrasana Bertempur Melawan Rahwana

Abimanyu menghadap eyang abiyasa meminta petunjuk bersama punokawan, dan disuruh segera pergi dengan petunjuk akan datang saudara yang akan menunjukan jalan. Maka punakawan dan abimanyu menuruni bukit, ketemu rombongan raksasa dan terjadilah perang besar. Abimanyu berhasil memukul mundur wadya bala raksasa. Kemudian bertemu gatotkaca, dan diajak segera ke argo piloso untuk mengambil wahyu wiji wasesa. Abimanyu menurut karena sesuai wangsit yang dia terima, yaitu akan datang saudara yang memberi pertolongan.

Keraton ngamarta terlihat puntadewa murung, demikian juga werkudoro dan nakulo sadewa, karena adanya pagebluk besar dan hilangnya harjuna. Sekonyong konyong datanglah setyaki patih dwarawati, meminta bantuan, karena pagebluk dan hilangnya sri kresna. Puntodewo ahirnya mengutus werkudoro mencari kresna dan harjuna. Werkudoro berangkat, dikisahkan sekali melangkah wekudoro mampu menempuh jarak begitu jauh karena aji ajinya. Saat melangkah dia melihat ada cahaya begitu indah di sebuah bukit dan dia segera bergegas kesana.

BACA JUGA:Masih Suka Mempermainkan Perempuan, Gus Baha Ingatkan Akibatnya

Di khayangan wisnu menghadap betara guru, disana ada juga bhatara narada. Wisnu bertanya siapa yang akan dia bela dalam bharata yudha?dijawab oeh bhatara guru orang yang membangun dan memakmurkan dunia, wisnu lalu bertitah, siapa yang menyusulku itu yang akan saya ikuti. tiba tiba datanglah jisnu. Jisnu melapor ke bhatara guru untuk mengajak bhatara wisnu pulang karena pagebluk besar di akibatkan naiknya wisnu ke kayangan dan meninggalkan ngarcapada.

Wisnu menolak, jisnu memaksa, jisnu menyeret kakaknya wisnu keluar dan terjadi keributan. Bhatara narada melempar angin garuda, dan wisnu serta jisnu kembali jatuh ke ngarcapada. wisnu masuk ke tumbuhan mandera kresna, sementara jisnu masuk ke busur panah. Sementra itu tibalah werkudoro di argo piloso menemukan adanya antaredja dan hanoman, hanoman menecritakan adanya wahyu wiji wasesa, dan werkudoro berkenan menyoba. Ternyata panah itu tak mau dipegang werkudoro. hanoman menenangkan kekecewaan werkudoro dan menyuruh werkudoro untuk tenang menunggu datangnya putranya gatot dan ponakanya abimanyu.

BACA JUGA:Ingin Membangun Keluarga dengan Pondasi Islam, Ustaz Adi Hidayat Bagikan Tipsnya

Abimanyu datang bersama gatot dan punakawan, abimanyu memegang panah dan memanah pohon andero kresna. sudah tiba saatnya takdir dewata. pohon berubah prabu kresna, panah berubah harjuna, dan wahyu masuk ke tubuh abimanyu. Maka bergembiralah semuanya, abiamanyu lah yang berhak menitiskan wiji pengayom di tanah jawa.

Keraton hastina, raja duryodana senang, karena dorna katanya berhasil mengambil wahyu. ternyata ketika wadah dibuka isinya wisanggeni, wisanggeni mengutuk resi dorna, atinya dalam keadaan ruh tak wajar pada bharata yudha. Karena malu resi dorna mengutuk wisanggeni tak bakal ikut dalam bharata yudha. Duryodana marah dan menyerang ngamarta. Pasukanya dipukul oleh werkudoro. keadaan kembali tenang.(**)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: