“Jujur, Sejak Itu Saya Bangkrut”

Jumat 30-12-2016,09:10 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar

Kendaraannya sudah busuk. Remnya blong, surat-surat mati, kenang pria 46 tahun itu.

Mobil butut itu lalu didandaninya. Joko meminta bantuan seorang kawan yang ahli las untuk memotong mobil itu. Lalu merangkainya sedemikian rupa seperti yang diinginkan.

Dia juga meminta tolong pada kawan lainnya yang ahli desain grafis untuk membuatkan logo. Joko melengkapi bagian belakang mobil itu dengan berbagai peralatan dari bekas gerai makanannya.

Menunya tetap sama seperti yang dia jual di gerainya dahulu. Hanya, karyawan yang dia pangkas dari sembilan menjadi tiga orang untuk menghemat biaya.

Joko juga mendapat tempat mangkal yang strategis di bekas SPBU di kawasan Jakarta Selatan. Dari situlah usahanya berkembang bersama lima wirausahawan lain yang juga merintis food truck dalam waktu yang hampir bersamaan. Mereka sering bertemu dan berjualan bareng-bareng.

Seperti diduga, perkembangan food truck cukup pesat. Para pemain baru bermunculan. Setelah jumlahnya banyak, Joko cs membentuk Asosiasi Food Truck Indonesia (AFTI) pada 9 Desember 2012, dengan anggota 50 pengusaha.

Joko ditunjuk menjadi chairman. Sejak itu Joko sering diundang ke berbagai kota untuk berbagi ilmu soal usaha food truck.

Usaha Joko terus berkembang. Tempat usahanya dalam waktu singkat bertambah, dua VW Combi dan dua Daihatsu Gran Max. Dia kemudian membawa dua Combi-nya ke Bali, mencoba peruntungan di sana.

Namun, sampai sekarang Bali belum bisa ditaklukkan. Karena itu, dia selalu berpesan kepada anggotanya yang hendak melebarkan sayap untuk mengenali daerah jajahan baru itu.

Lihat tren di sana seperti apa. Kenali pula psikologi masyarakatnya, jelas alumnus SMAN 79 Jakarta itu.

Selain mangkal, Joko juga kerap diundang berjualan di berbagai event. Namun, dia mengingatkan agar pengusaha food truck tidak mengandalkan event saja. Yang utama adalah jualan reguler.

Suami Febri Mutia, 41, itu membuat rumus khusus dalam berbisnis lewat food truck. Yakni rumus PEPS (product, equipment, people, dan system).

Dia juga memperhatikan detil, khususnya pada sektor keselamatan. Dia selalu merekomendasikan agar setiap food truck memiliki minimal satu alat pemadam api ringan (APAR) berukuran tiga liter. Begitu pula dengan sistem kelistrikan.

Kalau peralatanmu menggunakan listrik 1.000 watt, boleh nggak pakai kabel yang untuk 200 watt? Nggak boleh, kan, tambah dia.

Faktor keselamatan menjadi penting karena akan berpengaruh kepada reputasi food truck. Dia membuat analogi, bila salah satu restoran di sebuah mall terbakar, orang akan tetap pergi ke mall dengan mengunjungi restoran lain.

Tapi kalau food truck kita yang terbakar, apa iya orang masih percaya untuk makan di food truck?

Tags :
Kategori :

Terkait