Bagi Arief, AI telah memangkas waktu berpikirnya dan dapat membuat konten menarik. Manfaat yang dirasakannya sangat nyata. Dia bisa tetap menjaga interaksi sosial di dunia maya dengan percaya diri tanpa perlu pusing memikirkan tata bahasa yang kaku.
Beralih ke selatan Jakarta, Laela (45), yang bekerja sebagai karyawan administratif di sebuah universitas swasta kenamaan, merasakan beban kerjanya jauh lebih ringan berkat AI. Setiap hari, mejanya dihujani ratusan surat elektronik (email) dan dokumen kantor yang menuntut respons cepat.
"Dulu, membalas email resmi dari pimpinan, dosen, atau pihak luar itu bisa memakan waktu seharian karena harus menyusun kalimat formal yang tepat. Sekarang, saya pakai AI untuk membuat draf balasan atau menyusun laporan bulanan. Tugas administratif yang tadinya menumpuk berjam-jam, kini selesai dalam hitungan menit," ungkap Laela di kantornya pada Senin (18/5)
Bagi Laela, AI adalah asisten pribadi gratis yang membuatnya bisa lebih fokus pada tugas-tugas strategis lain yang membutuhkan keputusan manusiawi.
Sementara itu, bagi generasi Z seperti Alka (21), AI sudah seperti asupan harian. Mahasiswa jurusan geologi ini kerap memanfaatkan AI untuk membantunya menyelesaikan berbagai tugas kuliah yang menumpuk. Namun, Alka menegaskan dirinya tidak menggunakan AI untuk berbuat curang.
"Saya tidak menyuruh AI untuk langsung membuatkan tugas jadi, ya. Itu namanya curang. Saya menggunakannya sebagai teman diskusi atau brainstorming. Kalau saya mentok cari ide atau bingung merangkum materi berbahasa asing yang rumit, saya minta bantuan AI untuk membedah poin-poin pentingnya," jelas Alka di rumahnya yang berlokasi di Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Menurutnya, AI sangat membantu mempercepat proses belajarnya, terutama saat perpustakaan kampus sudah tutup dan dosen sulit dihubungi.
Dampak negatif dan tantangan ke depan
Seperti halnya teknologi baru lainnya, kehadiran AI di Indonesia layaknya pisau bermata dua. Di satu sisi, manfaat positifnya sangat jelas, yakni mendongkrak produktivitas kerja, menghemat waktu operasional, mengatasi keterbatasan bahasa, dan membuka ruang kreativitas baru tanpa batas bagi semua kalangan.
Namun, di sisi lain, teknologi AI juga memiliki sejumlah dampak negatif yang wajib diwaspadai.
Dalam sejumlah kasus, AI kerap disalahgunakan untuk menyebarkan informasi palsu (hoax) berbasis visual deepfake atau artikel manipulatif buatan mesin. Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan penyebaran disinformasi berbasis AI ini sebagai risiko serius bagi stabilitas dan ketahanan nasional.
Lebih lanjut, ketergantungan yang berlebih terhadap AI dapat menumpulkan daya analisis dan berpikir kritis manusia. Menurut Buldan Thontowi S.Psi., M.A., Ph.D, akademisi dan peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada bidang Psikologi Sosial, penggunaan AI yang sering untuk tugas-tugas kognitif berdampak negatif.
"Dalam eksperimen, kelompok yang menggunakan AI untuk menulis esai ternyata paling lemah saat menjelaskan esai mereka dibandingkan dengan kelompok yang menulis secara mandiri," ujarnya. Hal ini menciptakan "utang kognitif", ketika kita terlalu sering menggunakan AI tanpa melatih kemampuan berpikir, kita menjadi manusia yang kosong pikiran, imbuh Buldan.
Selain itu, dia mengungkapkan teknologi AI saat ini memiliki masalah bias budaya. "Data AI berasal dari sumber tertentu, sering kali Barat, sehingga ketika orang dari negara Muslim atau Indonesia bertanya tentang hubungan atau masalah seksual, AI mungkin menggunakan referensi Barat yang bertentangan dengan nilai-nilai setempat," paparnya.
Dari semua kelompok masyarakat, remaja lebih rentan terpapar dampak negatif AI. "Kelompok yang paling rentan adalah remaja dengan harga diri rendah yang mudah menerima informasi tanpa sikap kritis," kata Buldan dalam wawancara via telepon dengan Xinhua pada Jumat (22/5).
Oleh karena itu, dia mengungkapkan literasi digital menjadi faktor penting yang dapat melindungi remaja dari dampak negatif AI. "Jika anak muda memiliki sikap kritis terhadap informasi yang dihasilkan oleh AI dan menyadari bahwa respons AI berasal dari model bahasa besar yang mungkin tidak mencerminkan masyarakat mereka, mereka akan lebih terlindungi," ujarnya.