Banner HONDA

Kokok Yang Kalah Nyaring

Kokok Yang Kalah Nyaring

Liza Anwar-IST-

Oleh: Liza Anwar*

Langit perlahan hilang terangnya, dari biru berganti senja. Aku bergegas pulang, kembali ke tempatku. Bukan apa-apa namun jika Magrib tiba mataku tak bisa melihat sempurna. Tapi aku tahu jika ada yang mendekati. Langkah kaki yang semakin dekat, terdengar suara napas berat, dari langkahnya itu kurasa yang datang  seorang lelaki. Dia beringsut perlahan, aku berusaha menjauh, mundur beberapa langkah tapi semakin gelap hari semakin buruk pula penglihatanku.

"Hap!" Tiba-tiba tubuhku terangkat dalam pelukan lelaki itu. Aku tak bisa berlari menghindar, kehadirannya tak dapat diprediksi. Aku kaget dan berteriak. Suaraku ternyata membangunkan orang-orang sekitar.  Lelaki itu panik, dia melepaskan pelukannya dan aku bebas. Aku bernapas lega namun teriakan orang-orang itu mulai menggema.

"Maling....maling...!" Teriak mereka. Derap langkah seperti berlomba, lelaki itu berlari dan beberapa orang mengikutinya. Sedangkan aku kembali meringkuk ke dalam tempat berlindungku. Aku terselamatkan dan kembali menikmati malam tanpa gangguan.

      ***

BACA JUGA:SYLA, ISTRIKU DARI MASA DEPAN

BACA JUGA:TENTANG DIA (SERI 2)

Fajar selalu menepati janjinya untuk hadir di pagi hari.  Begitu pun aku, setiap hari selalu menyambut datangnya sang mentari bahkan sebelum dia muncul. Suaraku nyaring memecah kesunyian menjelang Subuh. Tapi ternyata hari ini berbeda.

"Heii... aku baru saja berkelana ke desa sebelah." Tiba-tiba saja temanku menghampiriku.  Tanpa ba-bi-bu dia bercerita.

"Sedih sekali rasanya, mendengar gadis kecil itu menangis. Kamu juga sih, kenapa juga bersuara malam tadi ketika lelaki itu menghampirimu!"

"Lho, memangnya kenapa?" Aku sedikit jengkel karena dia tiba-tiba menyalahkanku.

"Aku dengar dia dihajar. Dipukul pakai kayu dan akhirnya meninggal."

Aku berlari meninggalkan temanku itu. Rasanya tak percaya. Nyawa laki-laki itu seolah tak berharga. Langkah kakiku terhenti ketika tiba di halaman rumah duka. Lalu berdiri di bawah pohon tak jauh dari keramaian di rumah itu.

***

Langit masih biru ketika jasad lelaki itu dibawa pulang ke rumah. Teriakan putrinya masih terdengar nyaring, seakan bisa membangunnya. Hatiku ikut perih melihatnya. Tangisan itu seolah membuatku juga merasakan kehilangan.  Gadis kecil itu terus berteriak. "Bapak... Bapak... Bapak...." Namun sekuat apa pun teriaknya raga bapaknya tetap tak bergeming, terbujur kaku.

Gadis kecil itu mungkin tak mengerti mengapa Bapaknya tak akan pulang lagi. Yang dia tahu Bapak telah direnggut dari sisinya. Dia menangis sepuasnya berharap Bapak terjaga dari tidur yang panjang. Berteriak memanggil lelaki yang dia cintai, hingga rintihannya mengusik hati orang-orang yang melihat.

Saat gelapnya malam seekor ayam memang terselamatkan namun naasnya tergantikan dengan nyawa manusia. Tidak, bukan hanya satu manusia yang hilang. Ada jiwa-jiwa lain yang hancur karena kehilangan itu. Anak-anak lelaki itu dan seorang perempuan yang mendampingi hidupnya. Bukan hanya hidup lelaki itu yang terenggut tapi juga hidup mereka.

Sorak-sorai bak pahlawan menangkap penjajah, jumawa seakan tak ada dosa. Api disulut membakar kendaraan lelaki itu. Lelaki yang nyawanya tak lebih berharga dari seekor ayam bagi mereka. Hantaman kayu yang membabi-buta meremukan raga hingga hilang nyawa.

Aku pun mendekat mendengar orang-orang berbisik-bisik.  Katanya lelaki itu sedang berupaya mencari penghidupan untuk keluarga. Katanya sudah dua hari tak pulang agar uang sekolah terbayarkan. Katanya ini bukan kali pertama kelakuannya itu. Katanya, katanya, dan katanya bergaung menghampiri gendang telingaku.

Tentu aku tak setuju dengan lelaki itu, tapi aku tak tahu seberapa berat beban yang ditanggung di pundak itu. Aku tak tahu seberapa kalapnya dia hingga memilih jalan salah. Sayangnya jalan itu menghantarkan kepada Sang Pencipta dan ironisnya di tangan-tangan yang lebih memilih amarah dibanding logika.

Lagi-lagi teriakan dan tangisan gadis kecil itu mengitari gendang telingaku. Dadaku sesak. Sungguh biarkan saja nyawaku yang dia bawa daripada satu keluarga yang terluka. Atau serahkan saja pada hukum yang ada, walau kadang katanya tumpul ke atas tajam ke bawah.

"Kukuuk ruyuuuk... kuukuuuu ruyuuuk," teriakku merasa pilu.

***

Sejak saat itu kokokku tetap sama. Setiap menjelang fajar, aku masih setia berkokok. Namun, bagi satu keluarga hari-harinya tak akan pernah sama lagi. Kokokku kalah nyaring dibanding tangis yang mereka redam dalam diam.

 *Penulis adalah anggota Klub Pengarang Bengkulu

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait