Alur Pelabuhan Masih Dangkal?

Alur Pelabuhan Masih Dangkal?

BENGKULU, BE - Persoalan kapal besar tidak bisa mengisi muatan lebih dari 33 ribu ton di Dermaga Pulau Baai sampai saat ini belum ditemukan solusi. Kondisi ini terjadi disinyalir akibat alur pelabuhan yang masih dangkal. Ini berbeda dengan klaim PT Pelindo saat memaparkan perkembangan pelabuhan Pulau Baai kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat kunjungan di Bengkulu awal Februari lalu. Diketahui kala itu paparan Direktur PT Pelindo II RJ Lino, sejak  PT Pelindo II bergerak mengambil alih pengerukan alur masuk pada 2012 perubahan signifikan di Pelabuhan Pulau Baai. Kedalaman alur mencapai 13 meter. \"Ini (Pelabuhan Pulau Baai) merupakan pelabuhan terdalam di Pantai Barat Sumatera,\" ujarnya Lino kala itu. Pemaparan itu memang berbuah manis. Presiden sumringah dan lantas memuji kiprah PT Pelindo dalam pengelolaan pelabuhan Pulau Baai. Pasalnya, Pelabuhan Pulau Baai saat ini menjadi pintu masuk dan keluar berbagai komoditas, seperti batu bara curah kering, dan juga melayani kapal kargo yang membawa berbagai komoditas. Pelabuhan ini pula diharapkan mampu menggeliatkan ekonomi Bengkulu. Kenyataannya jika benar kedalaman alur telah mencapai 13 meter, tentunya keluhan pengguna kapal atas minimnya muatan yang bisa dibawa keluar dari pelabuhan tidak terjadi. Lantas berapakah kedalaman alur saat ini? General Manager Pelindo II Bengkulu, Nurhikmat saat dihubungi melalui telepon menyampaikan belum mendapatkan laporan berapa data terakhir kedalaman alur. Dengan begitu, ia belum bisa menyampaikan angka pasti dalamnya alur tersebut. \"Masalah kedalaman dan kapal dengan volume berapa bisa masuk belum bisa memastikan. Saya belum mendapat laporan terakhir, namun yang pasti setiap 2 minggu sekali dilakukan pengecekan,\" paparnya. Sementara itu Kepala Dishubkominfo Provinsi Drs Eko Agusrianto, mengatakan mengenai kondisi alur Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, pada 25 Februari lalu pukul 14.00 WIB hingga Pukul 16.00 WIB telah dilakukan sounding Pelabuhan Pulau Baai.  Pihak-pihak yang mengikuti sounding antara lain Direktorat Pelabuhan dan Pengairan Ditjen Hubungan Laut, KSOP, Dishubkominfo Provinsi, Pangkalan Angkatan Laut, Polairut Polda Bengkulu, Pelindo, DPC INSA Bengkulu, Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat dan Assosiasi Gaffeksi. Selanjutnya  pada 26 Februari juga telah dilakukan rapat pembahasan hasil sounding alur, kolam dan verifikasi data/exsisting fasilitas pelabuhan Pulau Baai Bengkulu.  \"Tapi hasilnya belum dilaporkan kepada saya,\" kata Eko. Dia mengatakan setelah data semua dia terima, pihaknya baru akan membahas dan membicarakannya berdasarkan data tersebut.  \"Setelah ada laporan resmi, nanti kami akan mengambil langkah apa, sesuai dengan hasil sounding itu,\" tegasnya. Sounding tersebut dilakukan berdasarkan surat keputusan KSOP NO. KP 104/317/KSOP/BKL.14 tanggal 18 Februari, perihal pembentukan tim terpadu sounding alur, kolam dan fasilitas pelabuhan Pulau Baai Bengkulu.\"Laporan belum kita terima. Saya akan berbicara pelabuhan dengan data,\" katanya. Terkait dengan tidak mampunya pelabuhan Pulau Baai menampung kapal berbobot 50 ribu ton, sehingga melakukan transhipmen di Pulau Tikus, dia juga belum bisa mengambil kebijakan. \"Maka kita perlu data (hasil sounding) untuk mengambil kebijakan berikutnya,\" katanya. Namun, meski belum mendapatkan laporan, melihat keluhan yang alami kapal besar yang tak bisa ditampung di Dermaga Pelabuhan Pulau Baai, menandakan alur pelabuhan masih belum sehat. \"Kalau dilihat, kondisinya (alur) seperti yang dikeluhkan para awak kapal (seperti diberitakan),\" ujar Eko.(100)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: