Anoman, Kera Putih Yang Punya Ajimundri, Jaya-Kawijayan Dan Okultisme

Anoman, Kera Putih Yang Punya Ajimundri, Jaya-Kawijayan Dan Okultisme

Aji Mundri tersebut dipergunakan oleh Anoman untuk mencoba jembatan udara yang dibangun oleh Wibisana --

BENGKULUEKSPRESS.COM - Apakah aji-aji dalam pewayangan itu betul-betul ada? Dan kalau ada bagaimanakah “rapal” dan mantranya? Aji-aji atau “Aji Jaya-kawijayan” itu memang betul-betul ada, tetapi tidak dalam pewayangan itu sendiri. Yang ada dalam pewayangan hanyalah merukan “pasemon” atau simbul belaka. Aji Jaya-Kawijayan juga disebut okultisme atau ilmu gaib dan oleh Wedhatama disebut “ngelmu karang”. Ngelmu karang tersebut oleh Wedhatama dilarang, adapun sebabnya ialah karena “ngelmu karang” itu disusun oleh makhluk yang gaib, yang hanya merupakan “karangan” saja (kakarangan saking bangsaning gaib/pangkur 9).

BACA JUGA: Kumbakarna! Raksasa Berwatak Satria Yang Berani Menentang Atasan Karena Benar

Ibaratnya bagaikan “boreh” (bedak) yang tak dapat meresap ke dalam tubuh, tetapi hanya menempel pada kulit luar saja. Ngelmu tersebut bila menghadapi bahaya secara mendadak, akan mengecewakan dan tidak dapat diandalkan (kapengkok ing pancabaya, ubayane mbalenjani).

Kini “ngelmu karang” sudah tidak dipelajari lagi, karena kini sudah ada senjata yang lebih ampuh, misalnya basoka (mariam) untuk tank, bom atom dan thermonuclear system. Betapapun sakti dan kebalnya orang yang ber “aji-aji” tersebut (ora tedas tapak paluning pande, sisaning gurenda, tanapi tedaning kikir, tinatah mendat jinara menter) tetapi kalau terkena bom atom atau basoka, saya kira akan “lebur” dan “memret” tulang dagingnya menjadi “sewalang-walang”. Kini, yang dipelajari adalah ilmu gaib yang putih, misalnya untuk mengobati orang yang sakit dan menolong sesama manusia dalam kesukaran. Ngelmu putih tersebut (bagi yang percaya) benar-benar ada dan dapat dipelajari.

BACA JUGA:Wisrawa, Seorang Pendeta Yang Tergiur Melihat Gadis Idaman Anaknya

Aji Mundri tersebut dipergunakan oleh Anoman untuk mencoba jembatan udara yang dibangun oleh Wibisana dalam lakon “Rama Tambak”. Karena aji Mundri-nya, jembatan tersebut hancur ketika di “genjot” oleh Anoman. Di samping itu, karena kesaktiannya, Anoman juga dapat mendarat di matahari dan melakukan perjalanan Alengka – Maliawan kurang dari setengah hari, apakah artinya itu? Anoman sebagai seorang panglima dan duta itu sebetulnya melambangkan duta putih utusan suci dari Sri Rama, oleh karenanya Anoman lalu diberi nama Ramadayapati.

Artinya, bahwa Anoman itu adalah puncak daya kekuatan (batin) dari Sri Rama. Sedangkan Rama adalah Wisnu, dan Wisnu adalah kebenaran Sejati. sedang Kebenaran Sejati adalah Yang Maha Kuasa dan Maha Suci. Utusan Yang Maha Suci adalah Insan Kamil, Insan Kamil adalah insan yang telah mendapat anugerah dan wahyu Illahi. Pendek kata Anoman Duta Sri Rama adalah lambang utusan suci dari Kebenaran.

Manusia biasa tidak mungkin menjadi Insan Kamil, paling “banter” hanya dapat menjadi manusia yang waskita atau filsuf agung, seperti halnya Jayabaya dan Ranggarwarsita. Orang yang sudah suci seperti putihnya Anoman itu akan menjadi awas, bukan awasnya matanya, tetapi awasnya hati nurani/batin. Betapapun tajam mata melihatnya kalau sudah terhalang oleh selembar daun saja tak mungkin mata dapat melihatnya. Namun sebaliknya penglihatan sejati (awasnya hati) itu dapat melihat KENYATAAN dan esensi dari segala eksistensi.

BACA JUGA:Dewi Arimbi, Raseksi yang berubah Menjadi Putri

Walapun ada tembok baja yang menghalangi, penglihatan sejati akan sanggup menembusnya dengan mudah. Wedhatama mengatakan bahwa : “Tuladan marang was paos, mring jatining pandulu (penglihatan sejati)” itu syaratnya haruslah (“tata-titi, ngati-ati, atetep talaten atul, sareh sanis kareng laku, kalakone saka benang hening heling lan hawas:) teratur, cermat, hati-hati , tekun, rajin, tidak mudah tergoda, semua tindak-tanduk harus sabar, sareh, soleh, tenang, jernih, syahdhu, sadar ingat dan waspada. Pendek kata manusia dapat menjadi awas kalau sudah mendapat ma’rifat.

Sedangkan untuk menuju ma’rifat, manusia harus melalui tataran-tataran yang disebut Zahid (pertapa) yaitu meninggalkan hidup duniawi atau kematerian ; tobhat ; warq , farq, sabar, tawakal, dan ridho. Tetapi walaupun persyaratan tersebut sudah dipenuhi, tetapi masih ada satu syarat lagi yaitu: “atas Kehendak-NYA” Artinya manusia tidak dapat memaksa Tuhan untuk menganugerahkan Wahyu-Nya. Semuanya itu hanya atas kehendak dan bila Tuhan berkenan.

Nah, sekarang bagaimanakah halnya dengan aji Pancasona milik Rahwana?
Rahwana adalah lambang “angkara murka”. Kita tahu, jika hari ini nafsu angkara berhasil kita bunuh, pasti besok akan hidup lagi, besok berhasil kita bunuh lagi, pasti lusa akan hidup kembali, begitulah seterusnya. Setiap manusia mempunya Rahwana (angkara murka) lengkap dengan “pancasonanya”.

BACA JUGA:Agar Mendapat Syafaat Rasulullah di Hari Kiamat, Amalkan 4 Amalan Ringan Berikut Ini

Nafsu Angkara (Rahwana) akan hilang kalau di situ berada (bersemayam) Anoman (kesucian yang putih). Karenanya tidak mengherankan bahwa dalam jaman Pandawa jika ada Rahwana, akan terdapat juga Anoman. Kalau Rahwana (Godakumara) datang menggoda, maka disitu Sri Kresna (Wisnu) akan memanggil Anoman untuk mengusir Rahwana si Angkara Murka.

Dari uruain tersebut dapat kita ketahui, bahwa kecepatan anoman terbang ke Alengka itu melambangkan kecepatan pikiran manusia. Tak ada kecepatan di dunia ini yang lebih cepat dari kecepatan pikiran manusia. Sedang kekuatan aji Mundri milik Ramadayapati (Anoman) adalah melambangkan pmusatan daya kekuatan manusia yang telah menjadi satu.

Dan inilah yang dinamakan Triwikrama, yaitu tiga kekuatan (cipta, rasa dan karsa) yang bersatu padu secara serempak “makarti” bersama-sama. Hendaknya diketahui, bahwa manusia hidup itu hanya mempergunakan 10% daripada seluruh energinya. Kalau manusia dapat memusatkan seluruh energinya dan potensinya 90% saja, pasti ia memiliki semacam aji Mundri.(**)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: