Kalau saja tidak ada pabrik semen di Bukit Indarung ini, bangsa Indonesia mungkin belum akan melihat Monumen Nasional (Monas), Jembatan Semanggi, Gedung MPR/DPR di Senayan, dan Hotel Indonesia di jantung Jakarta pada awal 1960-an. Mungkin pula belum ada Jembatan Ampera yang melintasi Sungai Musi yang membelah Kota Palembang hingga tahun 1970-an. Juga belum ada pabrik semen di Gresik yang bangunan gedungnya menggunakan semen produksi dalam negeri.
Maka bisalah dibayangkan, tanpa dibangunnya pabrik semen di Indarung (kini PT Semen Padang) tahun 1910, lebih seabad silam, maka dapatlah dibayangkan rakyat Indonesia dalam waktu yang lama akan tetap menjadi konsumen semen yang dibuat di negara lain.
Hari ini mungkin orang hanya akan memandang PT Semen Padang sebagai bagian ‘kecil saja’ dari industri semen nasional, karena produksinya yang sekitar 6,5 juta ton setahun Tapi seabad yang lalu, setelah dibangun tahun 1910, pabrik semen di bukit Indarung tersebut adalah segalanya bagi Indonesia yang masih bernama Hindia Belanda.
Sejak pertama dibangun, pabrik Semen Padang yang sejak awal telah menggunakan kerbau sebagai lambangnya, merupakan pabrik semen pertama di Hindia Belanda bahkan di Asia Tenggara. Status sebagai pabrik semen satu-satunya di Indonesia itu bertahan selama hampir setengah abad hingga dibangunnya pabrik semen Gresik tahun 1957. Namun hingga satu dekade setelah pabrik semen Gresik berdiri, produksi Semen Padang masih menjadi andalan bagi pembangunan berbagai proyek penting, strategis, bahkan menjadi landmark bagi kota-kota yang menjadi lokasi bangunan tersebut. Termasuk dalam hal ini Monumen Nasional, Gedung MPR/DPR, Jembatan Semanggi, dan Hotel Indonesia di Jakarta, dan Jembatan Ampera di Palembang. Bahkan gedung-gedung pabrik dan perkantoran milik Semen Gresik pun dibangun dengan semen yang diproduksi di Indarung ini.
Arsip di Tangan Belanda
Dengan demikian besarnya peran Semen Padang di masa silam hingga kini, sejarah Semen Padang pantas dicatat dan diarsipkan dengan baik. Sayangnya, arsip-arsip itu dibawa Belanda menjelang peristiwa pengambilalihan pabrik (nasionalisasi) tahun 1958. Kini, untuk mendapatkan arsip tentang Semen Padang, harus mencarinya ke negeri Belanda.
Manajemen Semen Padang pada tahun 2009 pernah mengirim tim untuk melacak arsip-arsip tersebut, demi kepentingan pembangunan Museum Semen Indonesia, di lokasi Pabrik Indarung I. Tentunya dokumen aslinya tak mungkin diminta, yang mungkin adalah membuat reproduksinya. Hasil reproduksi arsip itu tentu bisa disimpan di PT Semen Padang sendiri dan dibuat kopiannya untuk (salah satu) perpustakaan yang ada di Sumatra Barat. Manfatnya tentu banyak: misalnya untuk memperkaya isi Museum PT Semen Padang yang diwacanakan akan dibangun, dan tentu saja tak diragukan bahwa arsip tersebut akan sangat bermanfaat pula untuk dunia akademis.
Suryadi, pengajar Universiteit Leiden, Belanda, dalam sebuah artikelnya yang dimuat di Harian Singgalang, mengungkapkan, arsip-arsip yang terkait dengan PT Semen Padang yang tersimpan di Belanda terdapat paling tidak di lima tempat, yakni di Algemeene Rijk Archief, Den Haag, di Koninklijk Instituut voor de Tropen, Amsterdam, di Gemeente Amsterdam Stadarchief, di Univrsteitsbibliotheek Tilburg, dan di Arsip keluarga Perusahaan Dagang Veth Bersaudara yang kini tersebar di tujuh daerah / kota Belanda: Sliedrecht, Papendrecht, Lekkerkerk, Schiedam, Noord-Holland, Serooskerke, dan Middleburg.
Secara umum, dengan merujuk kandungan arsip-arsip tersebut dapat diketahui tentang PT Semen Padang dari sumber pertama, khususnya pada periode antara 1907-1970, seperti statuta pendirian PT Semen Padang dengan modal awal dan pemodal utamanya, neraca keuangan perusahaan itu per tahun, nama-nama direktur dan susunan direksi perusahaan itu sejak awal berdirinya, jumlah produksinya per tahun, perusahaan pemegang hak monopoli perjualan produknya, negara-negara tujuan ekspor produknya, dan lain sebagainya.