Tradisi Unik, Warga di Desa Ini Dilarang Jual Beras

Rabu 14-09-2016,08:20 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar

MASYARAKAT Kasepuhan Adat Cisungsang memiliki tradisi unik. Warga di sana dilarang menjual beras atau padi. Mereka diwajibkan memiliki leuit atau lumbung untuk menyimpan padinya. Mengapa?

Supriyono - Serang Banten

MASYARAKAT Adat Kasepuhan Cisungsang dan masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul lain meyakini tradisi tidak menjual beras sebagai petuah ajaran leluhurnya.

Bagi mereka, padi atau beras adalah simbol keberkahan dan kesejahteraan.

Mereka sangat menghormati padi atau pare sebagai kebutuhan pangan sehari-hari.

Karenanya, secara rutin mereka menggelar ritual seren taun sebagai puncak bertani.

Meyakini hal tersebut, membuat setiap keluarga diwajibkan memiliki leuit untuk menyimpan hasil panen.

Lantaran itu, leuit menjadi salah satu ornamen yang berjajar indah di setiap pekarangan atau halaman desa yang berjarak 150 kilometer dari Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten.

Bangunan leuit berbentuk rumah panggung, berbahan lempengan kayu segi empat.

Sementara, atapnya meruncing ke atas membentuk segi tiga.

Biasanya, leuit akan berjajar di halaman samping, belakang, atau depan rumah warga setempat. Tak jarang, leuit dibangun di sebelah pematang sawah.

Dari larangan menjual padi sampai kewajiban memiliki leuit itulah prosesi seren taun sudah dijalankan selama 700 tahun lebih.

Seren taun itu puncak perayaan panen di akhir dan awal tahun. Dimaknai juga sebagai pesta semua warga untuk berkumpul bersama dengan Ketua Adat dan masyarakat luar yang ikut datang. Sebagai pesta maka jangan sampai ada orang yang datang tidak makan, kata Henriana Hatra Wijaya, Sekretaris Adat Kesepuhan Cisungsang.

Menurutnya, padi sangat dihormati. Dalam bahasa masyarakat Cisungsang dipusti. Namun, tidak berarti mempertuhankannya.

Mereka tetap meyakini keberkahan diturunkan dari Tuhan lewat padi sebagai kebutuhan pokoknya.

Tags :
Kategori :

Terkait