Miseteri Telaga Cobra

Senin 28-04-2014,16:30 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar

Mungkin masih banyak yang belum tahu, jika diantara Desa Sidodadi dan Sidorejo Kecamatan Pondok Kelapa ada bendungan buatan batas desa yang memiliki aura mistis. Warga desa setempat percaya misteri ada ular cobra berkepala dua hidup dibendungan tersebut. Ular berkepala dua itu diyakini sering menampakkan diri. Sehingga, bendungan itu lebih sering dikenal dengan istilah telaga ular cobra. Sampai saat ini masyarakat setempat masih yakin ular itu masih bersarang disekitar telaga dan menjaga telaga tersebut. Berikut Laporannya ======================= Novrianto, Pondok Kelapa ======================= Bila ada warga yang bukan dari Benteng datang ke telaga Cobra, biasanya melihat hal aneh dan ditegur ulah Ular Cobra kepala dua, penghuni telaga. Warga tersebut biasanya menderita sakit ketika sampai di rumahnya. Karenanya ada aturan bagi pendatang ketika mau melihat telaga, tidak boleh berbicara kotor dan tidak diperkenankan buang air kecil sembarangan. \'\'Pendatang harus datang dengan cara baik-baik, harus membawa sebungkus rokok untuk disebarkan di telaga,\'\' ujar juru kunci telaga, Suharno. Telaga berwarna cokelat ini tidak pernah kering, sekitar telaga tumbuh pohon sawit dan pohon secara alami. Ular kepala dua yang pernah dilihat merupakan penunggu telaga. Bila si ular menampakkan diri ke dasar telaga, berarti itu pertanda bakal ada musibah melanda masyarakat Sidodadi maupun Sidorejo. Musibah itu, seperti warga bunuh diri, pembunuhan atau hal yang berhubungan dengan kematian. Terkait ular cobra yang berkepala dua, kata Suharno, memang pernah dilihat warga, yang secara kebetulan melintasi jalan di telaga tersebut. “Cerita warga memang ada ular kepala 2, cerita itu berkembang dan sebelumnya sempat menakutkan warga,\" katanya. Selaku pemilik lahan, sebenarnya Suharno tidak menjamin ular yang sering menampakkan diri itu penunggu telaga. Dia mengakui ilmu alam, air atau telaga yang ditumbuhi pepohonan memang menjadi habitat ular. \"Kalau bicara ghaib bisa jadi ular itu penunggu, tetapi untuk zaman modern seperti ini ular itu bendungan itu memang tempatnya hidup, apalagi ada semak-semak dan dialiri air,\" ujarnya. Suharno mengakui, telaga itu dibentuk secara buatan, sekitar tahun 1930 lalu. Sebagai wadah penampung aliran air hujan yang seringkali membanjiri pemukiman Sidodadi. Lama-kelamaan air itu membentuk seperti telaga, yang memiliki aura mistis. warga yang datang dengan niat buruk sering disakiti. \"Warga yang datang ke areal pelosok telaga, pulangnya ada yang demam panas dan sakit,\" terangnya. Warga Sidodadi Iwan, mengakui perihal warga baru yang mau datang ke telaga harus mendapat izin terlebih dahulu dan membawa sebungkus rokok untuk disebarkan. \"Banyak hal aneh sekitar danau itu, bila datang tidak izin, pengunjung tidak bisa mengambil foto. Walaupun sudah mengambil foto, tiba-tiba foto itu di kameranya hilang. Warga Sidodadi pun tidak bisa bebas datang ke sekitar telaga, berbahaya,\" tutupnya.(**)

Tags :
Kategori :

Terkait