Bagi Bung Karno, Bengkulu Menimbulkan Optimisme

Selasa 04-02-2014,11:22 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar

Bengkulu Doeloe dan Bengkulu Kini (2) Oleh: H Kaharuddin Thahrir, BSW. (Pengamat Sosial Politik dan Agama) Keputusan tanggal 3 April 1908 nomor 31 Pemerintah Kolonial menginternir Ida Bagus Arka dari Bali ke Bengkulu pula. Kalau di tempat-tempat pembuangan selain kota Bengkulu, Bung Karno termasuk keluarga yang mengikuti, selain khawatir dengan daerah pengasingan yang penuh bahaya penyakit dan benar-benar merasa diisolasi dari masyarakat dan orang yang banyak perhatian dalam soal sosial kemasyarakatan dan merasa amat jauh dari pusat pergerakan seperti Ibukota Jakarta, lain halnya dengan Kota Bengkulu. Disini (Kota Bengkulu) disamping dekat dengan Ibukota (Batavia) Bengkulu memberi kesempatan Bung Karno mendalami berbagai ilmu pengetahuan karena di Kota Bengkulu terdapat bibliotik, bioskop, tidak ada penerangan listrik, air ledeng, pokoknya pengasingan di Bengkulu merupakan semacam “ablessing indisguise” (rahmat terselubung). Betapa tidak, kalau Direktur Kompeni di London merasa khawatir ketenangannya. Sebabnya ialah bahwa Bengkulu telah menjadi kuburan bagi sejumlah besar pegawai Kompeni karena serangan malaria. Bagi Bung Karno pembuangan di Bengkulu justru menimbulkan optimisme. Kota Bengkulu sebagai Ibukota Keresidenan memberikan kesempatan melanjutkan aktifitas yang sekaligus mewujudkan obsesinya (cita-cita yang diidam-idamkan). Perlu diketahui oleh seorang ulama besar kenamaan dalam bukunya yang berjudul: “40 Masalah Agama Jilid II” bahwa Bung Karno dianggap salah seorang tokoh pembaharu agama Islam dan merupakan salah seorang tokoh modernis agama diantara tokoh-tokoh pembaharu Islam seperti: 1. Ibnu Taimiyah, 2. Mohammad bin Abdul Wahab, 3. Sayid Jamaluddin Al Afghan, 4. Sir Sayid Ahmad Khan, 5. Syeikh Muhammad Abduh, 6. Mirzah Ghulam Ahmad, 7. Mustafa Kamal Attaturk, 8. Dr. Ir. Soekarno, dan untuk lerbih jelasnya nomor 8 ini baca buku berjudul “Bung Karno Seorang Muslim yang Teguh dan Tangguh”, karangan H. Kaharuddin Thahir, BSW. Bung Karno seolah-olah disejajarkan dengan tokoh pembaru agama karena berkat ketekunan beliau mempelajari agama Islam selama dalam pembuangan di Endeh Flores. Hikmah Bung Karno di internir di Endeh disamping beliau harus menghadapi resiko bahaya penyakit malaria terutama bagi anggota keluarga yang secara fisik tidak sekuat fisik Bung Karno: peristiwa ini dikeluhkan Bung Karno hingga beliau berucap: Dalam segala hal pulau Flores yang jauh itu adalah “akhir dunia bagi saya”, keluh Bung Karno dalam autobiografinya seperti yang diceritakan pada Cindy Adams. Endeh digambarnya sebagai kampung nelayan berpenduduk 5000 orang. Disana tidak ada bioskop, tidak ada bibliotik (buku Bung Karno, hal. 10) disamping faktor-faktor negatif lainnya. Di pembuangan Kota Bengkulu masih dalam kaitan Bengkulu seperti diketahui dikenal salah satu daerah malaria di Indonesia, pembesar Belanda bernama Benyamin Bloom dan Joshua Charlton, Oktober 1685 (Bung Karno, hal. 8, M. Ali Chanafiah). Namun kendati Bung Karno dari suatu tempat pembuangan ke tempat pembuangan yang lain tidaklah dapat diragukan bahwa kota Bengkulu jauh lebih baik daripada tempat lain khususnya Endeh walaupun sama-sama sarang malaria. Bengkulu ibukota keresidenan walaupun status kota kecil dengan populasi penduduk sekitar 30.000 (tiga puluh ribu) orang, namun ada bioskop, perpustakaan, ada penerangan listrik, dan mempunyai air ledeng. Kelebihan lain yang tidak bisa dianggap remeh adalah lokasinya yang dekat dari Batavia, pusat dari segala macam kegiatan dan gerakan serta kegiatan yang bersifat politik, ekonomi, sosial yang bersifat kemasyarakatan maupun kebudayaan. Di Bengkulu Bung Karno sungguh tidak akan kesepian dari suasana pergerakan. Sebab apa yang terjadi di Batavia, imbasnya cepat sampai di Bengkulu meskipun begitu perlu diakui bahwa dia tidak lagi merupakan ajakan gerakan politik yang berarti seperti di jaman emasnya Sarikat Islam pada dekade kedua abad silam. Sarikat Islam sering membuat pemerintah jajahan pusing kepala di masa Residen Westenenk itu rakyat Marga Andalas pernah memboikot dan melakukan “bekendienst” gawe raja, semacam kerja paksa untuk memperbaiki jalan sebagai akibat “hasutan” (provokasi) Sarikat Islam. Untunglah peristiwa ini dapat diatasi secara bijaksana oleh Westenenk menurut Prof. Dr. HA. Sidik dalam bukunya “Sejarah Bengkulu”. (Bersambung)

Tags :
Kategori :

Terkait