Bengkulu, BE - Ketidakjelasan tapal batas antar kabupaten di sejumlah daerah rawan menimbulkan konflik sosial. Sehingga desa-desa yang berada di perbatasan antar kota/kabupaten tersebut rawan terjadi keributan, terutama pada Pemilu 2014 mendatang. Hal tersebut diungkapkan Asisten Intelejen (Asintel) Kejati Bengkulu Marihot Silalahi SH MH saat memandu penyuluhan hukum Kejaksaan RI dengan tema \"Kenali hukum, jauhkan hukuman\" di aula Hotel Bumi Endah, kemarin (19/11). Disebutkan Marihot, yag sangat rawan menimbulkan konflik adalah soal pertanahan. \"Sangat diperlukan ketegasan pemerintah mengenai tapal batas antar daerah tersebut, sebab masyarakat sangat membutuhkan kejelasan batas. Karena menyangkut masalah administrasi,\" ungkap Marihot. Ditambahkannya, Provinsi Bengkulu terdapat lima kabupaten yang masih bermasalah dengan tapal batas. Kelima kabupaten tersebut adalah Kabupaten Bengkulu Utara dengan Lebong ada dua desa dalam satu wilayah yakni Desa Padangbano dan Desa Renahjaya. Selain itu ada tiga kabupaten lain yang masih bermasalah terkait tata batas, yaitu antara Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan dan Kaur. Diketahui belum lama ini, Makamah Konstitusi (MK) telah menetapkan masalah tapal batas antara Kabupaten Bengkulu Selatan dengan dengan kabupaten pemekaran yakni Kabupaten Seluma serta Kabupaten Kaur yang berada di ujang selatan Provinsi Bengkulu. Menurut Marihot, tentunya keputusan MK tersebut tetap sesuai dengan undang-undang pemekaran kedua kabupaten baru tersebut, sehingga gugatan Pemkab Bengkulu Selatan sebagai induk sudah ditolak. Setelah mendapat putusan tetap MK tersebut, pemerintah daerah perlu menindaklanjuti dengan memasang tanda perbatasan yang memisahkan kedua kabupaten pemekaran tersebut, sehingga jelas diketahui masyarakat mengenai batas wilayah antara ketiga Kabupaten, sedangkan untuk tata batas Kabupaten Bengkulu Utara dan Lebong masih menunggu keputusan Pemerintah Provinsi Bengkulu. Sementara itu, toko masyarakat Desa Padangbano, Maruf, yang menjadi perserta dalam sosialisasi kemarin mengatakan, situasi dan kondisi di tingkat masyarakat saat ini sangat terkendali dan tidak ada persoalan. Namun, pada tahun 2014 medatang dikhwatirkan banyak masyarakat dimanfaatkan sejumlah pihak untuk meraup keuntungan, dengan melakukan politisasi, sehingga bisa memicu konflik tengah masyarakat. \"2014 mendatang tahun politik, sehingga tawan politisasi. Terutama di daerah perbatasan seperti kami, akan ada oknum yang memanfaatkan untuk meraup keuntungan,\" ungkapnya kepada jurnalis.(320)
Soal Batas, Rawan Konflik Sosial
Rabu 20-11-2013,10:15 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Sabtu 14-03-2026,11:51 WIB
Dirut PT Hensan Andalas Jadi Tersangka Baru Korupsi PLTA Musi
Sabtu 14-03-2026,11:46 WIB
Walikota Bengkulu Batasi Harga Kelapa Muda dan Es Teh di Pantai Panjang
Sabtu 14-03-2026,11:42 WIB
Perkuat Sinergi Akademisi dan Praktisi, Posko Studi Kepolisian Hadir di UNIB
Sabtu 14-03-2026,12:55 WIB
Ahmad Kanedi Isyaratkan Banding Usai Divonis Bersalah di Kasus Mega Mall–PTM
Sabtu 14-03-2026,12:11 WIB
Walikota Cup Bengkulu 2026 Siap Digelar di Pantai Panjang
Terkini
Sabtu 14-03-2026,20:53 WIB
Daftar Produk Dove Terbaik untuk Perawatan Seluruh Anggota Keluarga
Sabtu 14-03-2026,15:51 WIB
Disnakertrans Mukomuko Ingatkan Perusahaan Bayar THR H-7 Lebaran, Dilarang Dicicil atau Ditunda
Sabtu 14-03-2026,15:42 WIB
Stok BBM Nelayan Bengkulu Aman Hingga Lebaran, DKP Pastikan Pasokan SPBN Tersedia
Sabtu 14-03-2026,12:57 WIB
Hendri Praja Jabat Plt Bupati, Pemprov Pastikan Pemerintahan Rejang Lebong Tetap Stabil
Sabtu 14-03-2026,12:55 WIB