Perang Melawan Kelaparan Demi Masa Depan Bangsa

Senin 26-10-2026,12:39 WIB
Reporter : ANTARA
Editor : Rajman Azhar

Tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini semakin kompleks. Peningkatan produksi pangan memang memberikan harapan, tetapi persoalan distribusi, perubahan iklim, kualitas konsumsi, dan penyusutan lahan pertanian masih membutuhkan perhatian serius.

Salah satu persoalan utama adalah keterjangkauan harga pangan. Cadangan beras pemerintah yang mencapai jutaan ton tidak serta-merta menjamin harga pangan terjangkau di seluruh wilayah.

Rantai distribusi yang panjang, biaya logistik antarpulau, serta ketimpangan infrastruktur perdagangan dapat menyebabkan perbedaan harga yang cukup besar antara daerah produsen dan konsumen.

Kondisi tersebut paling dirasakan masyarakat berpendapatan rendah yang mengalokasikan sebagian besar penghasilannya untuk kebutuhan makanan. Ketika harga pangan meningkat, kemampuan mereka memenuhi kebutuhan gizi ikut tertekan.

Perubahan Iklim

Tantangan berikutnya berasal dari perubahan iklim. Fenomena cuaca ekstrem, termasuk El Nino, dapat memengaruhi ketersediaan air, pola tanam, dan produktivitas pertanian.

Ketergantungan sebagian lahan pertanian terhadap curah hujan menjadikan petani semakin rentan menghadapi kekeringan maupun perubahan musim yang sulit diperkirakan.

Maka dari itu, pembangunan infrastruktur irigasi, penyediaan pompa air, pengelolaan sumber daya air, serta penggunaan teknologi pertanian adaptif menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga kesinambungan produksi pangan.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kelaparan tersembunyi atau hidden hunger. Kondisi ini terjadi ketika seseorang memperoleh cukup makanan dari sisi energi, tetapi mengalami kekurangan zat gizi mikro, seperti zat besi, vitamin, dan seng.

Dengan demikian, rasa kenyang belum tentu menunjukkan terpenuhinya kebutuhan gizi. Pola konsumsi yang terlalu bergantung pada karbohidrat tanpa keseimbangan protein, sayuran, dan buah-buahan dapat menimbulkan persoalan kesehatan dalam jangka panjang.

Indonesia juga menghadapi beban ganda masalah gizi, yakni kekurangan gizi yang berlangsung bersamaan dengan meningkatnya persoalan kelebihan berat badan dan obesitas.

Prevalensi stunting nasional sebesar 19,8 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 memperlihatkan bahwa hampir satu dari lima balita masih mengalami gangguan pertumbuhan yang berkaitan dengan kekurangan gizi kronis dan berbagai faktor kesehatan serta lingkungan.

Situasi tersebut menegaskan pentingnya kebijakan pangan yang tidak hanya mengejar kecukupan jumlah makanan, tetapi juga memperhatikan kualitas gizi dan pola konsumsi masyarakat.

Dalam konteks ini, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk memperluas akses masyarakat terhadap makanan bergizi, khususnya bagi kelompok sasaran yang membutuhkan intervensi.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan pemenuhan gizi dan swasembada pangan sebagai bagian penting agenda pembangunan nasional.

Pembentukan Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi langkah kelembagaan untuk mengoordinasikan pelaksanaan program pemenuhan gizi melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Kategori :