BENGKULUEKSPRESS.COM - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mukomuko menyiapkan aplikasi digital Si Cerdas untuk memperkuat transparansi pengelolaan program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) di daerah itu.
Rencana tersebut dibahas dalam forum kolaborasi multipihak di Balai Daerah Kabupaten Mukomuko, Selasa (6/10/2026). Forum dipimpin Bupati Mukomuko H. Choirul Huda dan dihadiri jajaran pemerintah daerah, perbankan, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), serta perwakilan perusahaan yang beroperasi di Mukomuko.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Mukomuko, Singgih Pramono, mengatakan Si Cerdas dirancang untuk memperbaiki tata kelola pembiayaan alternatif, khususnya program yang bersumber dari CSR perusahaan.
"Untuk mewujudkan akuntabilitas tata kelola creative financing ini, kami menyiapkan aplikasi digital Si Cerdas yang kami arahkan untuk pembangunan rendah karbon di Kabupaten Mukomuko," kata Singgih.
Menurut Singgih, sistem digital itu nantinya memungkinkan informasi program CSR diakses lebih terbuka oleh masyarakat, sehingga pelaksanaan program lebih jelas dan bisa dipantau.
BACA JUGA:Mukomuko Proyeksikan PAD Rp80 Miliar, Dana Transfer Pusat Capai Rp686 Miliar
BACA JUGA:Dugaan Penganiayaan Hafidz Dilaporkan BEM UI ke Polda Metro Jaya
"Dengan memberdayakan CSR melalui tata kelola yang lebih baik, programnya dapat diakses secara luas oleh publik secara real time. Dengan demikian, transparansi dan akuntabilitasnya dapat dipertanggungjawabkan," ujarnya.
Bupati Choirul Huda mengatakan keterlibatan perusahaan dalam pembangunan lingkungan sekitar penting untuk menjaga hubungan baik antara dunia usaha dan masyarakat.
"Bina lingkungan sangat diperlukan dari pihak swasta agar investasi terjaga dengan baik. Ini diwujudkan melalui sikap saling memahami dan membangun hubungan yang saling menguntungkan antara perusahaan dengan masyarakat sekitar," kata Choirul Huda.
Ia menjelaskan, kontribusi perusahaan tidak harus berupa pembangunan berskala besar. Dukungan terhadap kebutuhan warga di sekitar wilayah operasional perusahaan juga bagian dari kolaborasi.
"Ketika ada jalan atau jembatan yang rusak, kegiatan sosial, kepemudaan maupun keagamaan, perusahaan bisa ikut hadir dan bergotong royong membantu fasilitas yang dibutuhkan masyarakat. Itu bagian dari konsep creative financing untuk pembangunan berkelanjutan," ujarnya.
Menurut Choirul Huda, pola serupa dapat diterapkan di desa-desa penyangga perusahaan.
"Program-program masyarakat di desa penyangga idealnya perusahaan ikut membantu pemerintah dengan semangat gotong royong atau melalui pola creative financing," kata Choirul Huda.
Perwakilan PT Alno Agro Utama, Zainal, menyatakan dukungan terhadap penguatan kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan.