Kartini Bekasi Sulap Limbah Plastik Jadi BBM

Senin 28-09-2026,14:16 WIB
Reporter : ANTARA
Editor : Rajman Azhar

Lantaran cakupan aktivitasnya berada di lingkup RT 05, BSU Gempita menerima seperlima dari total bantuan tersebut. Dana itu pun langsung dimanfaatkan untuk membeli mesin pirolisis.

Mesin seharga Rp28,5 juta tersebut dibeli secara pre-order dari Blitar, Jawa Timur. Berkapasitas hingga lima kilogram dalam sekali proses, alat ini mampu mengolah limbah plastik menjadi BBM cair seperti premium, minyak tanah, dan solar.

Cara kerja mesin ini terbilang sederhana. Sampah plastik dimasukkan ke dalam tabung, dipadatkan, lalu ditutup rapat sebelum bagian bawahnya dipanaskan menggunakan gas.

Selama proses pengolahan, air dialirkan ke bagian kondensor untuk mendinginkan uap hingga menghasilkan cairan BBM. Selanjutnya, mesin akan memfilter hasil olahan secara otomatis sesuai kandungannya: BBM jenis premium, minyak tanah, maupun solar akan mengalir ke lubang penampungan masing-masing. 

Alat tersebut tidak dioperasikan setiap hari, melainkan hanya saat jumlah sampah plastik yang terkumpul sudah mencukupi. Dari proses ini, BSU Gempita mampu menghasilkan beberapa jenis BBM.

Meski demikian, cairan yang keluar pada tahap awal masih berwarna kehitaman, sehingga memerlukan proses lanjutan agar warnanya menjadi lebih jernih.

"Masih ada tahapan berikutnya. Yang kemarin sudah dilakukan itu dengan destilasi skala lab yang dibawa ke lapangan. Hasilnya memang sudah ada, bagus, dan bening," ujar Hesti.

Kendati berhasil menghasilkan bahan bakar, fokus utama BSU Gempita bukanlah memproduksi BBM, melainkan menekan volume sampah non-ekonomis agar tidak menjadi residu yang menumpuk.

BBM hasil olahan tersebut juga belum dipasarkan secara luas, melainkan baru digunakan untuk operasional internal BSU Gempita, seperti bahan bakar motor roda tiga pengangkut sampah hingga mesin pemotong rumput.

Para Kartini Bekasi ini berharap inovasi di BSU Gempita dapat direplikasi oleh bank sampah lain. Peran bank sampah diimbau tidak berhenti pada kegiatan mengumpulkan dan menjual sampah bernilai ekonomis saja.

Mereka menaruh harapan besar agar seluruh bank sampah di Indonesia memiliki fasilitas pengolahan limbah non-jual. Dengan begitu, volume sampah. terutama plastik yang sulit didaur ulang, dapat ditekan secara signifikan.

"Ke depan kami berharap semua BSU punya alat ini. Jadi tidak hanya mengumpulkan sampah anorganik yang bernilai jual, tetapi juga mengolahnya. Tidak sekadar jadi tempat mengumpulkan dan menjual," kata Hesti Warih MR.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Bekasi terus mengampanyekan pelestarian lingkungan melalui pengolahan sampah dari sumbernya. Masyarakat diimbau membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah.

Pemkot Bekasi juga mengajak lingkungan pendidikan, pusat perbelanjaan, perkantoran, hingga kawasan perdagangan untuk aktif memilah sampah sebagai langkah nyata penanganan masalah lingkungan.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahjono, menyampaikan bahwa proyek pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kecamatan Bantargebang yang dijadwalkan beroperasi awal 2028 belum cukup untuk menuntaskan seluruh persoalan sampah.

Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan kapasitas pengolahan 1.500 ton sampah per hari tersebut harus didukung gerakan swadaya masyarakat untuk mengolah sisa 300 ton sampah harian yang belum tertampung.

Kategori :

Terkait