LEBONG, BENGKULUEKSPRESS.COM – Gubernur Bengkulu, H. Helmi Hasan, secara resmi meluncurkan (launching) program Penanaman Kopi Merah Putih pada areal demplot di Desa Mangkurajo, Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong, Sabtu (7/2/2026). Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata memperkuat sektor pertanian berbasis kerakyatan serta meningkatkan kesejahteraan petani melalui hilirisasi yang berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Gubernur Helmi Hasan menegaskan bahwa program ini bukan sekadar aktivitas menanam biasa, melainkan investasi masa depan bagi kemandirian ekonomi daerah.
"Penanaman kopi bukan hanya tentang menanam bibit di tanah, tetapi menanam harapan, menanam masa depan, dan menanam komitmen bersama untuk membangun Bengkulu yang lebih mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan," ujar Helmi Hasan.
Ia menambahkan, penggunaan nama "Merah Putih" memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat Bengkulu. "Nama Bumi Merah Putih mengandung makna yang sangat mendalam. Yaitu melambangkan persatuan, kedaulatan, serta semangat gotong royong dalam membangun daerah," tegasnya.
BACA JUGA:Didukung Polda hingga BI, 30 Wartawan Bengkulu Bertolak ke Hari Pers Nasional
BACA JUGA:Tekan Pengangguran di Kaur, Wabup Abdul Hamid Lobi Wamenaker RI di Jakarta
Gubernur berharap ekosistem yang dibangun tidak berhenti pada tahap penanaman saja, melainkan mencakup pendampingan hingga pemasaran digital agar kopi Bengkulu mampu menembus pasar modern.
"Semoga dari tanah Bengkulu ini lahir kopi unggulan yang membanggakan daerah dan dicintai oleh masyarakat luas," tutup Helmi Hasan.
Sementara itu, Ketua Pokja Kopi Merah Putih, Safnizar, yang juga Kadis LHK Provinsi Bengkulu, dalam laporannya menyampaikan bahwa untuk tahap awal, sebanyak 45.000 pohon kopi Arabika akan ditanam di areal demplot Mangkurajo menggunakan teknologi full organik. Program ini mendapatkan pendampingan langsung dari ahli kopi internasional, Prof. Eggy Mahardika, yang merupakan Ketua Asosiasi Kopi Dunia (ICO).
Berdasarkan data tahun 2026, Provinsi Bengkulu memiliki luas areal persetujuan Perhutanan Sosial (PS) mencapai 53.000 hektare dengan sekitar 18.000 Kepala Keluarga (KK) penerima manfaat. Namun, saat ini baru 20 persen lahan yang tergarap optimal, sementara 80 persen sisanya masih berupa semak belukar dan hutan sekunder.
Dukungan finansial program ini diperkuat dengan alokasi anggaran sekitar Rp25 miliar dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Keuangan melalui kerja sama dengan Pemerintah Norwegia. Dana tersebut diperuntukkan bagi fasilitasi pengembangan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) guna mendukung implementasi FOLU Net Sink 2030.
Selain fokus di sisi hulu (penanaman), Pokja Kopi juga tengah menyiapkan rencana hilirisasi di pusat kota. "Selanjutnya Pokja Kopi Bumi Merah Putih sedang menyusun rencana pembangunan demplot hilirisasi kopi di Kota Bengkulu dengan brand Café Red & White Coffee," tulis Ketua Pokja dalam laporannya.(**)