'Takut Kejatuhan Bom' Inilah Kisah Para WNI yang Selamat dari Konflik Sudan

Sabtu 29-04-2023,13:23 WIB
Reporter : Jamal Maarif
Editor : Jamal Maarif

BENGKULUEKSPRESS.COM -  Lebaran identik dengan perayaan yang diiringi suara takbir dan pukulan bedug. Namun, bagi Muhammad Mufid, mahasiswa asal Indonesia yang berada di Sudan, ia merayakan Lebaran diiringi suara ‘tembakan dan bom‘.

“Malam yang harusnya takbiran, malah ada bom, tembakan, dan sebagainya. Suara masjid tidak ada. Listrik enggak ada, masjid enggak ada yang bunyi. Di sana enggak ada orang keliling bawa obor, enggak ada yang teriak sahur,“ kata Mufid dilansir dari BBC News Indonesia.

Mahasiswa jurusan Studi Islam itu mengatakan bahwa ia sempat tinggal dalam satu apartemen bersama dengan 10 orang lainnya. Di tengah konflik yang berlangsung, mereka tidak bisa keluar untuk membeli bahan makanan untuk berbuka puasa.

Makanan yang ada pun harus mereka hemat dan berusaha untuk memakannya sebelum membusuk. Sebab, selama delapan hari, kulkas mati karena listrik padam dan air terbatas.“Apa yang masih ada di hemat-hemat. Mi instan, beras pun kita harus irit. Karena kalau habis kita mau beli kemana? Toko-toko pada tutup, entah untuk menjaga diri sendiri dulu, takutnya berkepanjangan,“ ungkapnya.

Mufid kini berada di Jakarta setelah dievakuasi bersama dengan 385 WNI lainnya

Sambil menunggu teman-temannya yang hendak membeli nasi padang bersama, sebuah hidangan yang sudah lama ia tidak cicipi, Mufid mengingat kembali suasana di kampusnya saat konflik bersenjata memuncak di negara itu.

“Pagi itu tiba-tiba ada banyak tembakan-tembakan seperti itu. Dan itu kita enggak tahu asalnya dari mana. Tiba-tiba sudah mulai membesar, sudah makin kacau, karena situasi,” kata Mufid.

Ia mengatakan bahwa kampusnya diliburkan demi keselamatan para mahasiswa. Khalayak diminta untuk tinggal di dalam karena pertempuran terjadi di jalanan dan ruang-ruang publik.

Bahkan, saat itu ia terkadang tidak bisa mengabari kedua orangtuanya di Semarang, Jawa Tengah, tentang kondisinya di Sudan. Sebab, internet dan listrik terbatas di dalam apartemennya.

“Kami sampai lupa hari, sampai lupa tanggal, sudah enggak memikirkan besok hari apa, tanggal berapa. Tapi seingat saya delapan hari dalam kondisi tanpa air, tanpa listrik, dengan stok makanan terbatas,“ kata Mufid.

BACA JUGA:Apa Penyebab Perang Saudara Sudan? Begini Faktanya

Mendengar suara tembakan dan jet tempur lewat sudah menjadi seperti “makanan sehari-hari“ bagi Mufid yang sempat kesulitan tidur karena khawatir akan pertempuran yang terjadi di luar sana. “Suara tembakan, suara bom. Itu yang bikin kami kalau tidur pun enggak tenang. Takutnya bom jatuhnya ke kita. Tiap menit itu pasti ada suara, entah tembakan, entah suara misil, entah suara jet, helikopter,“ jelasnya.

Suatu saat, menjelang buka puasa, ia memberanikan diri untuk pergi bersama seorang teman untuk membeli bahan makanan di pasar. Namun, tak disangka, ia hampir terjebak dalam baku tembak antara dua kelompok tentara yang bermusuhan.

”Belum selesai bayar, tiba-tiba mobil tadi, balik arah dengan kecepatan tinggi. Di belakangnya itu seakan-akan ada orang yang nembakin mereka. Jadi mungkin lawannya kelompok itu. Semua yang di pasar langsung tiarap.

”Pedagangnya lagi bungkusin, saya lagi mau ngasih uang. Jadi kami tiarap dalam keadaan ketawa. Karena masih hidup! Mungkin karena sudah kena mental ya,” katanya sambil tertawa.

Kategori :