Relawan SPPG Ratu Agung Keluhkan Hak Kerja dan BPJS Kesehatan
Koordinator SPPG Regional Provinsi Bengkulu, Iqbal Ramadhan,--
BENGKULUEKSPRESS.COM – Pemenuhan hak kerja relawan menjadi sorotan dalam pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ratu Agung TP 3 di kawasan Tanah Patah, Kota Bengkulu.
Seorang relawan yang minta identitasnya dirahasiakan mengungkap sejumlah persoalan yang menurut pengakuannya telah berlangsung sekitar dua bulan. Keluhan tersebut mulai dari dugaan ketidaksesuaian perhitungan hari kerja, kepesertaan BPJS Kesehatan yang disebut belum diterima sebagian relawan, hingga pengawasan operasional dapur pada malam dan dini hari.
Keluhan itu disampaikan melalui pesan yang kemudian beredar di media sosial. Identitas relawan dalam tangkapan layar tersebut tidak ditampilkan secara utuh.
Relawan tersebut mengaku bekerja selama enam hari dalam sepekan. Namun, hari kerja yang diperhitungkan disebut hanya lima hari.
Menurutnya, kondisi tersebut telah berlangsung kurang lebih dua bulan dan berdampak terhadap hak yang diterimanya.
“Saya ingin melaporkan masalah gaji/hak saya. Saya kerja enam hari, dihitung lima hari kerja. Sudah kurang lebih dua bulan dibuat seperti ini,” tulis relawan tersebut.
BACA JUGA:Camkoha Melekat dengan Bengkulu, Ustad Affan: Berawal dari Rakyat Bengkulu
BACA JUGA:Rumah Warga Talang Tais Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp300 Juta
Keluhan mengenai perhitungan hari kerja tersebut menjadi persoalan utama karena berkaitan langsung dengan kejelasan sistem kerja dan pemenuhan hak relawan yang terlibat dalam operasional SPPG.
Selain perhitungan hari kerja, persoalan kepesertaan BPJS Kesehatan juga menjadi perhatian.
Relawan menyebut masih terdapat pekerja yang belum mendapatkan kepesertaan BPJS Kesehatan. Namun, belum diketahui secara pasti jumlah relawan yang disebut belum terdaftar maupun mekanisme jaminan kesehatan yang diterapkan pengelola SPPG.
Persoalan tersebut dinilai perlu mendapatkan kejelasan, mengingat para relawan terlibat dalam aktivitas operasional SPPG secara rutin, termasuk proses persiapan makanan yang berlangsung hingga malam dan dini hari.
Tak hanya itu, relawan juga mempertanyakan sejumlah kebutuhan yang menurut pengakuannya tidak lagi diberikan secara rutin. Salah satunya vitamin bagi pekerja.
Relawan kemudian menyinggung adanya penjualan sejumlah barang bekas dari aktivitas dapur, seperti minyak jelantah, kardus bekas dan karpet telur.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

