Perempuan Lebih Rentan Jadi Korban Kejahatan Digital

Perempuan Lebih Rentan Jadi Korban Kejahatan Digital

Workshop Keamanan Digital dengan mengangkat tema “Lo Melek Keamanan Digital, Lo Punya Kuasa” yang digelar Bincang Perempuan bekerjasama dengan Indorelawan dan Indika Foundation, Jumat (27/10/2023) di Universitas Dehasen, Kota Bengkulu.-(foto: istimewa/bengkuluekspress.disway.id)-

BENGKULUEKSPRESS.COM - Keamanan siber telah menjadi isu prioritas seluruh negara di dunia semenjak teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan, baik aspek sosial, ekonomi, politik, pendidikan, keamanan, maupun budaya. Sayangnya, informasi terkait keamanan digital dan praktiknya masih menunjukkan ketimpangan yang cukup tinggi.

Menurut Web Foundation, kesenjangan penggunaan digital antara laki-laki dan perempuan sebesar 21%. Berdasarkan data Kominfo hanya 20% perempuan di Indonesia yang memiliki akses internet dan sebanyak 52% perempuan pernah mengalami insiden terkait keamanan fisik dalam bentuk penguntitan, komentar seksis dan bentuk kekerasan lainnya.

MPO AJI Bengkulu, Herri Aprizal mengatakan perempuan lebih rentan menjadi korban kejahatan digital dibandingkan laki-laki. Menurutnya hal ini terlihat dari dilihat dari catatan Komnas Perempuan tahun 2020 tentang kasus KBGO (kekerasan berbasis gender online) yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dari 126 kasus pada 2019 menjadi 510 kasus pada 2020.

BACA JUGA:Program Kosabangsa UNIB dan UNIVED, Wujudkan Desa Lawang Agung Mandiri

“Pada masa sekarang perkembangan digital telah mengalami transformasi yang berdampak pada kesenjangan akses digital dan merambah pada ancaman serangan siber bagi perempuan,” ungkap kata Herri saat mengisi Workshop Keamanan Digital dengan mengangkat tema “Lo Melek Keamanan Digital, Lo Punya Kuasa” yang digelar Bincang Perempuan bekerjasama dengan Indorelawan dan Indika Foundation, Jumat (27/10/2023) di Universitas Dehasen, Kota Bengkulu.

Heri menambahkan ketidakamanan digital menimbulkan hambatan terhadap partisipasi perempuan dan tantangan ini perlu dikenali dan diintervensi karena ketimpangan gender digital adalah perpanjangan dari ketimpangan di dunia luring.

“Hal ini nantinya dapat berdampak bagi kecemasan dan ketiadaan ruang aman yang membuat perempuan tidak dapat berpartisipasi secara utuh dalam kehidupan digital. Untuk itu perlunya edukasi mengenai literasi untuk perempuan dalam keamanan digital,” imbuhnya.

Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia Wilayah Bengkulu, Komi Kendy menyampaikan pentingnya mengenal “Digital Security dan Tools Digital”.  Ia mengajak anak muda khususnya mahasiswa untuk mulai memahami tentang pentingnya kesadaran akan keamanan data dan informasi untuk meminimalisir ancaman kejahatan siber. Komi juga memberikan edukasi melalui berbagai praktik dalam melindungi data ketika memanfaatkan fasilitas digital.

BACA JUGA:Hima Jurnalistik Fisip Unib Gelar Workshop Penulisan Berita dan News Anchor

“Beberapa hal yang dapat dilakukan diantaranya memastikan perangkat yang digunakan dalam keadaan aman, mengganti password secara berkala, dan menghindari membagikan data pribadi dalam laman apapun,” paparnya.

Sementara itu,  Project Officer Bincang Perempuan, Retno Wahyuningtyas, mengatakan tujuan dari kegiatan ini agar anak muda khususnya mahasiswa bisa lebih cakap dalam literasi digital dan mampu menyesuaikan diri terhadap era perkembangan digital pada masa kini.

“Melalui kegiatan tersebut Bincang Perempuan berupaya mengedukasi anak muda agar dapat beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dan perkembangan digital, bukan hanya dari sisi penggunaannya saja, tetapi juga pentingnya keamanan di dalam berdigital, dengan cara melindungi informasi, perangkat, hingga kesejahteraan kita dari bahaya.

Kegiatan ini diikuti 20 mahasiswa terpilih dari Universitas Dehasen dan Universitas Bengkulu.(rls)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: