Penghuni Bumi Perlu Bersiap, 'Kiamat' Sudah Dekat

Penghuni Bumi Perlu Bersiap, 'Kiamat' Sudah Dekat

Penduduk Greenland bergulat dengan pemanasan global -(REUTERS/Lucas Jackson)-

BENGKULUEKSPRESS.COM - Para penghuni harus bersiap dalam segala kemungkinan terburuk beberapa tahun kedepan. Sebab pemanasan global diprediksi akan melampaui 1,5 derajat Celsius dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.

Hal itu dikhawatirkan oleh para ahli karena 1,5 derajat Celsius adalah batas bencana pemanasan global yang dampaknya ke Bumi sudah tidak bisa diperbaiki lagi.

Menurut laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) mengatakan bahwa kondisi ini membuat penghuni Bumi berhadapan dengan dekade paling krusial dalam sejarah manusia.

BACA JUGA:KTT ke-42 ASEAN akan Bahas Visi ASEAN Pasca 2025

Meskipun demikian, IPCC mengatakan bahwa manusia masih belum terlambat untuk mencegah titik 'kiamat' akibat pemanasan global. Oleh sebab itu, PBB mengimbau penduduk Bumi untuk segera mengurangi emisi pemanasan global secara drastis.

"Kami tahu caranya, yakni memiliki teknologi, peralatan, dan anggaran yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan iklim yang sudah kita kenali sejak lama," ujar Ketua IPCC, Lee Hoesung, dikutip dari AFP, Sabtu (29/4/2023).

"Satu-satunya yang kurang adalah kemauan politik yang kuat," lanjutnya.

IPCC menyatakan, suhu Bumi akan mencapai titik 1,5 derajat Celsius alias lebih tinggi dari masa pra-industri pada awal 2030-an.

BACA JUGA:Pengiriman Uang Pekerja Migran dari Malaysia Tembus Rp1 Triliun

Saat ini, Bumi sudah 1,2 derajat Celsius lebih hangat dari masa pra-industri. Bahkan, dampak pemanasan global ini sudah sangat dirasakan oleh penduduk Bumi berupa cuaca ekstrem.

"Tahun paling panas yang kita alami saat ini akan menjadi tahun terdingin di satu generasi," kata ilmuwan dari Imperial College London, Friederike Otto.

Dampak terlampauinya batas 1,5 derajat Celcius adalah sinyal peningkatan laju kepunahan spesies, gagal panen, hingga 'tipping point' dari perubahan sistem iklim berupa kematian koral dan mencairnya es di kutub.

Sekjen PBB, Antonio Guterres menyatakan bahwa negara kaya yang pada awalnya menargetkan karbon netral pada 2050 harus mempercepatnya menjadi 2040 untuk 'menjinakkan bom iklim'.

"Manusia berdiri di lapisan es yang tipis dan es itu mencair dengan sangat cepat," kata Guterres.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: