Tradisi Berdabung Pada Suku Haji

Tradisi Berdabung Pada Suku Haji

Saat itu dibulan Desember dipenghujung tahun 1961. Disatu rumah di Desa Kuripan, Sumsel sejak pukul 03.00 dinihari seluruh penghuninya sudah terbangun. Beberapa pemuda sibuk menyalakan lampu patromak. Lampu yang tergolong mewah dizaman itu.  Mereka bukan hendak menyiapkan makan sahur. Tapi hari itu anak perempuan tertua dari pasangan suami istri Agustam Radin Priyayi dan Nuriani akan menjalankan tradisi \'Berdabung\'. Beberapa lelaki dewasa menyiapkan peralatan untuk memotong kambing dan ayam. Ibu-ibu mulai sibuk didapur menyiapkan makanan dan minuman.  Terlihat beberapa gadis usia belasan tahun sibuk menghias kamar termasuk menyiapkan,sprei, kasur dan bantal tempat \'Berdabung\' akan dijalankan. Anggun demikian nama anak gadis yang akan didabung terlihat ceria. Seperti tak sabar menunggu datangnya hari siang tiba. Itulah gambaran persiapan tradisi berdabung pada suku Haji Kabupaten OKU Selatan Propinsi Sumatera Selatan tempo dulu.   Berdabung adalah proses merapikan gigi dengan cara mengikir gigi bagi anak perempuan atau anak lelaki yang masuk usia dewasa (15 tahun keatas). Alat yang digunakan adalah batu asahan halus yang besar dan panjangnya seukuran jempol tangan orang dewasa. Pada waktu itu yang paling terkenal tukang Dabung di Desa Kuripan bernama Samsudin atau lebih dikenal dengan gelar Bangsa Nata. Uniknya untuk pekerjaan yang cukup menyita waktu ini (Berdabung dimulai pukul 07.00 pagi s.d pukul 12.00 siang) Samsudin tidak menetapkan tarif biaya. Besaran biayanya diserahkan kepada keikhlasan keluarga yang anaknya Berdabung. Setelah sholat dzuhur prosesi Berdabung diakhiri dg do\'a dan makan bersama. Menghabiskan waktu sampai setengah hari disebabkan tiap 15 menit ada jeda istirahat sekitar 10-15 menit. Maklum, dapat dibayangkan kerumitan pekerjaan yang semuanya dilakukan secara manual. Apalagi si tukang Dabung harus berhati-hati sekali untuk mengurangi rasa ngilu gigi orang yang di Dabung. Ada dua model Berdabung,yg pertama model gigi \'rampat atung\' dimana seluruh gigi atas bawah,bagian luar dan dalam dikikir dengan asahan sehingga akan terlihat rata semua. Yg kedua model \'hulu kalang\' dimana gigi bagian depan dibuat tidak sama rata atau lebih panjang dibandingkan dengan gigi lainnya atau dibuat bentuk lonjong (mirip kepala ikan lele (ikan kalang) jika dilihat dari depan. Tujuan Berdabung selain sebagai simbol kedewasaan juga akan menambah kecantikan bagi perempuan atau ketampanan bagi laki-laki. Tercatat ada beberapa orang  dari Desa Kuripan yang pernah menjalani tradisi Berdabung. Diantaranya : Hamid Gedung Mulia, Salim Jaga dan Radin Zen. Dibandingkan tradisi \'Besihung\' (menghitamkan gigi secara permanen dengan ramuan arang kayu kemuning), tradisi Berdabung bertahan cukup lama.  Baru pascatahun 1970-an tradisi Berdabung mulai hilang. Hal itu seiring dengan kesadaran masyarakat akan kesehatan gigi dan mulut (gigi yg di Dabung akan rusak bahkan dapat menimbulkan bau mulut yang tidak sedap). Ditambah lagi, pemuda-pemuda yang sekolah agama ke Pesantren di daerah Cinta Manis OKI memfatwakan bahwa tradisi itu bertentangan dengan ajaran Islam. Tradisi Besihung yaitu menghitamkan gigi pada perempuan masyarakat suku Haji ternyata juga ada di Jepang yg disebut Ohaguro.tapi tahun 1873 kaisar Jepang melarangnya. Tradisi Besihung itu juga ada di masyarakat vietnam, thailand, china,laos,india dan malaysia.?? Penulis : Agustam Rachman, pengamat budaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: