HONDA BANNER

PERWIRA DAN PERTIWI

PERWIRA DAN PERTIWI

Penulis, Liza Anwar -foto: istimewa -

"Naikan harga diri! Bukan Pajak!" Teriak ibu itu lantang. Matanya membelalak isyaratkan kemarahan dan kekecewaan. Teriakannya disambut dengan tepuk tangan para mahasiswa, aku pun ikut bertepuk tangan untuk ibu itu. 

Keadaan yang semula aman dan tenang tiba-tiba ricuh, botol plastik dan batu melayang di udara, kemudian ada yang berteriak lantang, "Majuuu... Ayok maju...." Entah siapa yang memulai, keadaan pun memanas. Barisan polisi memperkuat pegangan tamengnya sementara mahasiswa maju-mundur .

Teriakan, makian memenuhi atmosfer di sana. Lalu gas air mata diluncurkan. Asap mengepul, massa sejenak mundur. Setelah kabut itu memudar massa kembali bergerak melawan, menyerang. Sedangkan aparat tak mau kalah bertahan. Mereka saling pukul, aku pun menyingkir. Mencoba mencerna apa yang aku saksikan. 

Siapa yang aku bela, siapa yang salah? Ini salah yang demo kenapa bertindak anarkis pikirku. Tidak-tidak, ini salah aparat karena keras pada rakyat.

Tapi bukannya mereka juga sama? Sama-sama rakyat? Belum sempat aku mencerna lemparan batu mengenai pelipisku. Darah mengucur, aku mencoba menutupinya dengan telapak tangan. Sementara itu mataku terasa perih karena gas air mata.

Aku menyeret termos es tempat mendinginkan air mineral kemasan, menjauh dari kerumunan. Darah dipelepisku belum juga mau berhenti. Pandangan mataku kabur dan kepalaku terasa berdenyut, sakit.

Lalu aku mencoba memfokuskan pandangan tapi apa yang ku lihat? Pria paruh baya dengan gagahnya membawa bendera. Mengepalkan tangan di udara lantang berteriak, “Merdeka…!” Air matanya mengalir memandangku. Aku tertegun. Bukankah sosok itu sedang terbaring sakit di rumah? Kenapa bisa di sini? Benarkah itu Bapak atau kilasan cerita Bapak yang tergambar di mataku? 

"Bapaaaaaaak!" Aku berteriak. 

"Minggir, Pak! Sini sama Wira! Bapaaak!" Teriakku lagi sembil berjalan menghampirinya. 

Tak lama kemudian tanganku ditarik Rian, tetangga sekaligus sahabatku, dengan mata sebabnya menyeretku untuk pulang. 

"Wiraaa, pulang. Pulang.... Bapak, Wir. Bapak...."

Aku menoleh ke arah tempat Bapak bediri tadi, Bapak tak ada. Sementara itu Rian hanya menangis tanpa suara. Sahabatku itu dengan terbata-bata melanjutkan perkataannya. 

"Bapak jatuh di kamar mandi... Bapak… Bapak...."

Aku tak sanggup mendengar ceritanya, perasaanku kalut. Aku takut dengan logika yang memaksa untuk tidak berharap. Rian menarik tanganku kembali, menuntun untuk naik ke motornya. Secepat mungkin kami sampai ke rumah. 

"Pak, Bapak belum lihat Wira jadi Perwira. Bapak belum lihat Wira sukses. Bapak belum lihat Perwira bapak membela Pertiwi yang Bapak cintai ini...." tangisku dalam hati ketika melihat bendera kuning melambai-lambai menyambut kedatanganku. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: