Bahasa Ibu Mulai Punah, Aksara Hangeul Jadi Pengganti
Menelisik Asal Usul Aksara Korea Hangeul di Komunitas Suku Cia-Cia (1)
Suku Cia-Cia di Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, menghadapi problem serius. Bahasa ibu mereka kini terancam punah karena jumlah penuturnya yang terus tergerus. Menariknya, untuk menyiasati problem itu, suku Cia-Cia menggunakan aksara bahasa Korea sebagai aksara bahasa mereka. Kok bisa?
SEKARING RATRI A., Bau-Bau
Demam K-Pop ternyata tidak hanya menjangkiti anak-anak muda di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Budaya dari dataran Korea Selatan itu juga melanda kota kecil bernama Bau-Bau di Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra). Bedanya, bukan hanya K-Pop-nya yang digandrungi, tapi juga aksara Korea, Hangeul, yang diterapkan dalam bahasa asli suku Cia-Cia di Bau-Bau.
Mayoritas suku Cia-Cia yang berada di Kota Bau-Bau bermukim di Kecamatan Sorawalio. Kecamatan itu berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari pusat kota. Jalannya cukup menantang: naik turun gunung dan bergelombang. Kecamatan Sorawolio dikelilingi hutan dan lembah. Rumah-rumah penduduk berdampingan dengan lahan pertanian.
Meski belum banyak tersentuh modernisasi, nama-nama jalan, nama sekolah, atau instansi pemerintah lainnya ditulis dengan dua aksara. Yakni, latin dan Hangeul. Misalnya, Sekolah Dasar Negeri Karya Baru dan SMA Negeri 6 Bau-Bau. Bagaimana mungkin kota terpencil di Sulteng itu bisa welcome terhadap salah satu budaya dari Negeri Ginseng tersebut\" Bahkan, aksara Korea sampai dimanfaatkan untuk menuliskan bahasa suku Cia-Cia di Bau-Bau.
Itu semua, rupanya, bermula dari hubungan kerja sama antara Pemerintah Kota Bau-Bau dan Kota Seoul, ibu kota Korsel. Dua kota tersebut menyepakati nota kesepahaman yang menjadikan mereka sister city (kota kembar). Menurut Abidin, salah seorang perintis aksara Korea di Sorawolio, pada 2005 Wali Kota Bau-Bau (kala itu) Amirul Tamim bertemu Prof Chun Thai Yun dalam Simposium Penaskahan Budaya Internasional. Kepada Chun Thai, Amirul bercerita bahwa suku Cia-Cia di Bau-Bau terancam kehilangan bahasa ibu mereka. Mereka juga tidak memiliki aksara untuk menuliskan bahasa pergaulan masyarakat itu.
\"Mendengar soal bahasa Cia-Cia tersebut, Prof Chun Thai Yun tertarik untuk mempelajarinya,\" papar guru bahasa Inggris di SMA Negeri 6 Bau-Bau tersebut, Selasa (22/10).
Ancaman kepunahan bahasa Cia-Cia itu kemudian diceritakan guru besar di Hankuk University for Foreign Studies tersebut kepada kawan-kawan akademisinya di Korsel. Antara lain, seorang ahli fonetik di Seoul National University Prof Lee Ho Young. Singkat cerita, setelah itu, Desember 2008, Prof Chun Thai Yun mulai melakukan penelitian soal kebahasaan tersebut di Kecamatan Sorawolio.
Berkat bantuan Prof Chun Thai Yun, sebuah yayasan nonprofit di Korsel, Hunmingjongeum Institute, bersedia memberikan beasiswa pendidikan bahasa Korea selama enam bulan kepada guru sekolah di Bau-Bau. Wali Kota Amirul pun diminta mengirimkan dua guru asli Cia-Cia untuk belajar bahasa di Seoul National University (SNU).
\"Yang dipilih adalah dua guru bahasa Inggris, saya, dan seorang teman dari SMA Negeri 1,\" ujar Abidin.
Pada 1 Desember 2008, Abidin dan kawannya sudah berada di Seoul. Bahkan, mereka langsung belajar di SNU. Kebetulan bertepatan dengan musim dingin. Keduanya pun sangat tersiksa dengan kondisi cuaca yang amat dingin itu. Mereka juga bermasalah dengan makanan Korea.
\"Kami terheran-heran dengan musim dingin di sana. Makanannya tidak ada yang cocok dengan perut kami. Serbasusah penyesuaiannya pada awalnya,\" kenang guru 38 tahun itu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




