Profesor Ismunandar, Guru Besar Termuda Pertama ITB
Melalui skema itu pembelajaran sains harus membuat siswa menjadi seorang saintis (ilmuwan atau peneliti). Proses tersebut dilakukan untuk pembelajaran teori-teori ilmu pengetahuan dari tingkat yang paling sederhana. Namun, tidak semua teori disajikan kepada siswa mulai awal hingga proses analisis. Sebab, para guru akan terbentur kepada masa studi semester tertentu.
Sistem baru pembelajaran sains itu awalnya mendapat respons kurang positif dari guru. ’’Para guru tidak pede (percaya diri, Red) mengajak siswa ikut meneliti secara langsung. Mereka merasa lebih enak menggunakan teori yang sudah ada di buku,’’ katanya.
Setelah melalui pelatihan berkali-kali, para guru baru mulai bisa menerima. Ismunandar mengatakan, teknik mengajar sains dengan menempatkan siswa sebagai seorang saintis sudah lebih dulu dilakukan di Prancis dan negara-negara maju yang lain. ’’Kita perlu mencontoh mereka.’’
Secara khusus, Ismunandar juga memberikan perhatian kepada pengembangan teknologi mobil listrik di Indonesia yang belakangan ramai menjadi perbincangan. Proyek itu memiliki tantangan cukup besar. Terutama soal produksi masal baterai. Problem baterai yang ideal untuk mobil listrik saat ini belum bisa diatasi.
Dia menandaskan, baterai mobil listrik yang ideal adalah baterai yang harga belinya terjangkau masyarakat luas, mudah diisi, dan hemat penggunaannya. Dari aspek fisik, baterai listrik yang ideal juga tidak memakan tempat luas dan ringan. ’’Bisa saja menggunakan teknologi baterai seperti di handphone. Tetapi, itu harganya mahal sekali,’’ tuturnya. (*/c4/ari)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


