HONDA BANNER

Profesor Ismunandar, Guru Besar Termuda Pertama ITB

Profesor Ismunandar, Guru Besar Termuda Pertama ITB

Setelah menuntaskan program magister secara kilat, hanya setahun, Ismunandar langsung fokus menuntaskan jenjang doktornya. Dia banyak menghabiskan waktu di laboratorium untuk meraih gelar S-3. ’’Dari pagi sampai sore saya kuliah dan melakukan penelitian di laboratorium,’’ kata lulusan ITB 1992 itu.

 

Ismunandar mengatakan tidak pernah merasa bosan setiap hari harus kuliah di laboratorium kimia. Pasalnya, dia ingin cepat menyelesaikan tugas agar bisa segera pulang ke tanah air. Dia membuktikan impiannya itu setelah sukses meraih gelar doktor pada 1998. Ismunandar dikukuhkan sebagai doktor dengan penelitian tentang energi terbarukan.

 

Saat itu dia meneliti padatan oksida logam yang selama ini umum digunakan sebagai bahan keramik atau semen. Berdasar penelitiannya, oksida logam ternyata menyimpan sejumlah potensi manfaat yang tinggi. Yakni, sebagai bahan fuel cell untuk energi terbarukan.

 

Menurut Ismunandar, bahan bakar oksida padat (solid oxide fuel cell –SOFC) yang didapat dari oksida logam memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan dengan bahan bakar minyak. Selain terbarukan, penggunaan bahan bakar logam ramah lingkungan serta mempunyai tingkat efisiensi yang  cukup tinggi.

 

Setelah pulang ke tanah air dan mengajar kembali di ITB, Ismunandar terus mengembangkan diri lewat berbagai forum ilmiah. Salah satunya, di perkumpulan menteri-menteri pendidikan ASEAN (SEAMEO). Di organisasi itu Ismunandar didaulat menjadi direktur quality improvement of teacher and education personnel (QITEP) in science.

 

Misi utama organisasi itu ialah mereformasi pembelajaran di negara-negara ASEAN, khususnya untuk guru-guru ilmu pengetahuan (sains) di jenjang SMP dan SMA. Sebab, menurut Ismunandar, cara mengajar guru-guru bidang sains di seluruh negara anggota ASEAN sama saja. Yakni, berorientasi kepada buku pelajaran.

 

’’Melalui reformasi pembelajaran sains itu, kita mencoba menyuguhkan model yang berbeda. Siswa dilibatkan secara penuh,’’ katanya.

 

Dalam sistem pembelajaran baru itu, siswa ikut terlibat, mulai penentuan teori, menguji teori ilmu pengetahuan tertentu, hingga saat menganalisis teori.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: