Banner HONDA

Bukan Hanya Harga TBS, Bapperida Mukomuko Soroti Persoalan Petani Sawit

Bukan Hanya Harga TBS, Bapperida Mukomuko Soroti Persoalan Petani Sawit

Bapperida Mukomuko Soroti Persoalan Petani Sawit--

BENGKULUEKSPRESS.COM – Persoalan yang dihadapi petani kelapa sawit di Kabupaten Mukomuko ternyata tidak hanya berkaitan dengan naik turunnya harga tandan buah segar (TBS). Ketersediaan bibit asli dan berkualitas hingga pengembangan industri pengolahan sawit juga perlu mendapat perhatian agar perkebunan dapat memberikan hasil yang lebih baik bagi petani.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Mukomuko saat menerima kunjungan pengurus DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Mukomuko di kantor Bapperida, Selasa (3/11/2026).

Kepala Bapperida Mukomuko, Singgih Pramono, menyampaikan bahwa berbagai persoalan yang dihadapi petani perlu diperhatikan secara menyeluruh. Menurutnya, keberhasilan usaha perkebunan tidak hanya ditentukan oleh harga jual hasil panen, tetapi juga dipengaruhi kualitas tanaman, ketersediaan bibit, serta peluang pengembangan usaha pengolahan sawit di daerah.

Singgih menilai, persoalan bibit menjadi hal penting karena sangat berpengaruh terhadap hasil kebun dalam jangka panjang. Petani membutuhkan bibit kelapa sawit yang asli, unggul, dan memenuhi standar agar tanaman dapat menghasilkan buah secara maksimal.

BACA JUGA:Desember 2026, RS Pratama Ipuh Ditargetkan Layani Pasien BPJS

BACA JUGA:Jelang Pilkades, DPMD Mukomuko Ingatkan 37 Desa Patuhi Masa Tenang

"Jangan sampai petani sudah mengeluarkan biaya besar untuk membuka dan merawat kebun, tetapi kemudian menghadapi masalah karena bibit yang digunakan tidak jelas kualitasnya. Ini juga perlu menjadi perhatian bersama, karena dampaknya bisa dirasakan petani dalam jangka panjang," kata Singgih.

Ia menambahkan, kebutuhan petani tersebut perlu diperjuangkan melalui komunikasi yang baik antara organisasi petani dan pemerintah daerah. Apkasindo diharapkan tidak hanya menyampaikan persoalan harga TBS, tetapi juga mengumpulkan berbagai keluhan dan kebutuhan petani yang ditemukan di lapangan.

Dengan adanya komunikasi tersebut, pemerintah daerah dapat mengetahui lebih jelas persoalan yang dihadapi petani. Masukan itu nantinya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun program pengembangan sektor perkebunan agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Selain persoalan bibit, Singgih juga menyoroti pentingnya pengembangan usaha pengolahan kelapa sawit di Kabupaten Mukomuko. Menurutnya, potensi perkebunan sawit yang cukup besar perlu didukung dengan upaya meningkatkan nilai jual hasil perkebunan.

Selama ini, hasil perkebunan sawit di Mukomuko sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk tandan buah segar (TBS). Ke depan, pengembangan industri pengolahan diharapkan dapat membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

"Potensi sawit kita cukup besar. Karena itu, perlu dipikirkan bagaimana komoditas ini bisa memberikan nilai tambah. Tidak hanya menghasilkan TBS, tetapi juga bagaimana peluang pengolahan dan pengembangan sektor hilirnya dapat tumbuh di daerah," ujarnya.

Singgih menegaskan, pemerintah daerah membutuhkan mitra yang dapat menyampaikan kondisi dan kebutuhan petani secara langsung. Dalam hal ini, keberadaan Apkasindo dinilai penting untuk menjembatani komunikasi antara petani dan pemerintah.

Bapperida, lanjutnya, terbuka untuk mendukung berbagai langkah positif Apkasindo dalam memperjuangkan kepentingan petani serta mendorong kemajuan perkebunan kelapa sawit di Mukomuko.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: