HONDA BANNER

Pengaruh Budaya Self-Reward, Bermanfaat atau Justru Bikin Boros?

Pengaruh Budaya Self-Reward, Bermanfaat atau Justru Bikin Boros?

Manfaat dan Pengaruh Budaya Self Reward-freepik.com -

BENGKULUEKSPRESS.COM - Budaya self-reward semakin populer belakangan ini, terutama di kalangan anak muda yang ingin memberi apresiasi pada diri sendiri setelah bekerja keras atau berhasil mencapai target tertentu. Fenomena ini sering terlihat dalam bentuk belanja, makan enak, atau sekadar me-time.

Meski tampak sederhana, kebiasaan ini ternyata cukup banyak diteliti karena berkaitan dengan motivasi, kesehatan mental, sekaligus gaya hidup konsumtif.

Penelitian Fadila dkk. (2023) dalam Jurnal Riset Manajemen dan Ekonomi menemukan bahwa self-reward memiliki pengaruh besar terhadap keputusan pembelian generasi Z. Bahkan, pengaruhnya lebih kuat dibanding sekadar paparan media sosial.

Temuan ini menunjukkan bahwa alasan “hadiah untuk diri sendiri” bisa menjadi dorongan utama seseorang melakukan konsumsi, meski kadang barang atau layanan yang dibeli tidak terlalu dibutuhkan.

BACA JUGA:Magister Ilmu Komunikasi FISIP UNIB Hadirkan Bupati Mukomuko dalam Kuliah Umum Strategi Komunikasi Publik

BACA JUGA:Dorong Gaya Hidup Sehat, UNIB Gelar Fun Run 2025 Berkolaborasi Dengan Kemenpora dan Komisi X DPR RI

Di sisi lain, penelitian Sari & Putri (2023) dalam Jurnal Didaktika menunjukkan sisi positif self-reward. Mahasiswa yang membiasakan diri memberi penghargaan kecil untuk dirinya, baik dengan hal sederhana seperti makan makanan favorit, beristirahat, atau melakukan hobi, cenderung memiliki kondisi emosional yang lebih stabil, lebih bahagia, serta lebih termotivasi.

Hal ini membuktikan bahwa self-reward bisa menjadi bentuk self-care yang sehat bila dilakukan secara wajar.

Namun, penelitian lain dari Jurnal Sosial Humaniora Indonesia (2022) memberikan catatan kritis. Self-reward bisa berubah menjadi hedonisme ketika dijadikan pembenaran setiap kali merasa lelah atau tertekan.

Dalam jangka panjang, pola ini dapat memicu perilaku konsumtif yang tidak terkendali dan melemahkan motivasi intrinsik, karena seseorang terbiasa mengandalkan hadiah eksternal untuk merasa puas atau layak.

Maka dari itu, penting untuk menjaga keseimbangan dalam menerapkan budaya self-reward. Bentuk penghargaan tidak harus mahal atau mewah; cukup dengan aktivitas sederhana seperti nonton film di rumah, berjalan santai, atau memberi afirmasi positif pada diri sendiri.

BACA JUGA:Mitigasi Bencana Gempa Bumi, Mahasiswa Sosiologi UNIB Bersama BPBD Edukasi Siswa SD Negeri 080 Bengkulu Utara

BACA JUGA:115 Guru se-Kota Bengkulu Ikuti Workshop Pembuatan Kebek Palak

Dengan cara ini, self-reward bisa tetap memberi manfaat psikologis tanpa membuat dompet jebol.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: