Namun, ada beberapa negara yang membuat Sarah terkesan antara lain seperti Belanda, Jerman, Prancis, Tiongkok, Hong Kong (kota di bagian tenggara Tiongkok), dan negara-negara di Eropa lainnya.
Hobi traveling yang dia gandrungi itu, bukan tanpa alasan.
Selain berlibur, kedatangannya ke negara-negara maju tersebut juga dimanfaatkan untuk belajar.
”Karena aku sekarang lagi menjalankan bisnis kuliner, jadi setiap datang ke tempat nongkrong, selalu aku amati kalau ada manajemen yang bagus. Nah, itu nanti yang aku terapkan di bisnis,” ujar dia.
Di kafe miliknya, Sarah telah membangun sistem yang mana setiap outlet sudah memiliki manajer, supervisor, tenaga administrasi, dan tenaga lapangan.
”Jadi kalau aku tinggal insyaallah sudah tidak apa-apa,” beber dia.
Soal risiko, Sarah pun tidak ingin berandai-andai karena baginya, semua usaha punya risiko masing-masing.
”Dihindari juga nggak mungkin karena risiko itu bagian dari jalannya usaha. Cuma kalau bisa, gimana caranya aja kita meminimalisasi risiko yang berpeluang menimbulkan kerugian,” tambahnya.
Tidak hanya mengembangkan passion berbisnis untuk dirinya sendiri, kini Sarah mulai menularkan kemampuannya pada sang adik.
”Ya kecil-kecilan dulu yang penting coba belajar. Karena adikku cowok, jadi aku arahkan untuk coba usaha di bidang mekanik,” tukasnya.
Tidak hanya sampai di situ, dalam waktu dekat, Sarah juga akan membuka cabang usaha kafenya di Surabaya dan Bali. (*/c4/lid)