JAKARTA - Pembatasan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan mengalihkannya ke pertamax untuk kendaraan pribadi belum pasti diberlakukan. Meski begitu, Pertamina sudah berancang-ancang menambah jumlah outlet SPBU pertamax dan pertamax plus jika kebijakan tersebut akhirnya diambil pemerintah. \"Rencananya ada penambahan 1.000 SPBU pertamax dan pertamax plus pada tahun 2013 ini,\" ujar VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir saat dihubungi, Minggu (20/1). Persebaran SPBU pertamax/plus tersebut merata di seluruh Indonesia. Saat ini, kata Ali, total secara nasional terdapat 3.711 SPBU pertamax/ plus. Dari jumlah tersebut paling banyak terdapat di region III yang meliputi DKI Jakarta, Jawa bagian barat, dan Banten sebanyak 1.628 SPBU. Kemudian region V (Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara) sebanyak 729, dan region IV (Jawa Tengah dan DIY) sebanyak 565 SPBU. Dengan jumlah stasiun pengisian bahan bakar seperti itu, menurut Ali, Pertamina siap jika pembatasan BBM bersubsidi diterapkan dan mengalihkannya ke pertamax. Ali juga menjamin pasokan BBM nonsubsidi itu. \"Dari sisi stok, lebih dari siap untuk menyuplai pertamax,\" katanya. Seperti diberitakan, realisasi BBM bersubsidi tahun 2013 diperkirakan bakal tembus mencapai 48 juta kiloliter dari kuota awal sebesar 46,01 juta kiloliter. Usulan untuk melakukan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi kembali bermunculan untuk menjaga APBN. Yang terbaru, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengusulkan kepada pemerintah agar mobil keluaran tahun 2006 ke atas dilarang membeli BBM bersubsidi. Selain mengurangi beban negara, hal itu juga bisa membuat kendaraan menjadi lebih awet. Meski keputusan menjadi domain pemerintah, Ali sependapat dengan usulan Gaikindo tersebut. \"Kendaraan di atas 2006 memang seharusnya menggunakan pertamax sesuai dengan spesifikasi mesinnya,\" terangnya. Menurutnya, pertamax dan pertamax plus yang ada saat ini sudah setara Euro 3 dan sudah diinjeksi additive (memenuhi standar detergency WWFC kategori 4). Pembatasan BBM bersubsidi untuk kendaraan pribadi saat ini masih dalam tahap kajian pemerintah. Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo pekan lalu mengatakan, fokus saat ini adalah melaksanakan apa yang sudah menjadi keputusan, yaitu larangan kendaraan dinas memakai BBM bersubsidi. Jika Peraturan Menteri ESDM nomor 1 tahun 2013 tentang pembatasan dan penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dilaksanakan dengan benar, kata Susilo, bisa menekan penggunaan BBM bersubsidi sebanyak 1,5 juta kiloliter. Dia juga mengatakan, belum ada rencana untuk menaikkan harga BBM. (fal)
Pertamina Tambah 1.000 SPBU Pertamax/Plus
Senin 21-01-2013,05:05 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 29-10-2026,11:45 WIB
Tragedi Kereta Cepat di Spanyol: 68 Orang Tewas, Ratusan Lainnya Terluka
Kamis 29-10-2026,11:23 WIB
Setahun Sekolah Rakyat, 44 Ribu Anak Nikmati Pendidikan Gratis, Gus Ipul Terharu
Kamis 29-10-2026,11:12 WIB
6 Pantangan Weton Jumat Kliwon Menurut Primbon Jawa, Ini 4 Hari yang Dipercaya Naas
Kamis 29-10-2026,10:36 WIB
Mengenal Harm Reduction, Pendekatan Pemulihan Adiksi Tanpa Harus Berhenti Total
Kamis 29-10-2026,11:07 WIB
dr. Zaidul Akbar Ungkap 3 Makanan Pemicu Perut Buncit, Kolesterol Tinggi dan Asam Urat
Terkini
Kamis 29-10-2026,19:05 WIB
Sekolah Rakyat Mukomuko Ditargetkan Terima Siswa Perdana Juli 2027
Kamis 29-10-2026,19:02 WIB
Pemkot Bengkulu Perkuat Sinergi OPD, Targetkan Layanan PAUD HI Terpenuhi pada 2027
Kamis 29-10-2026,18:58 WIB
Tak Tunggu Tahapan Pemilu, KPU Mukomuko Benahi Data Pemilih Sejak Dini
Kamis 29-10-2026,18:54 WIB
Program Bengkulu-ku Terang Benderang, Dishub Catat 1.948 Realisasi Lampu Jalan Sepanjang 2026
Kamis 29-10-2026,18:51 WIB