DEPRESI pada masa anak-anak sering sulit dideteksi. Itu disebabkan saat usia prasekolah, superego anak belum berkembang. Anak pun kerap kali mengalami kesulitan untuk menceritakan pengalamannya, bahkan menyatakan perasaannya. Entah itu ketika mereka sedang merasa marah, sedih, kecewa, ataupun putus asa. Dokter Yunias Setiawati SpKJ dari RSUD dr Soetomo Surabaya mengatakan, gejala depresi pada anak sebenarnya berupa cry for help terhadap orang tua. Namun, karena anak kerap menampilkan perilaku negatif, orang tua dan guru merasa kesal. Karena itu, alih-alih mendapat pertolongan, anak malah sering mendapat hukuman. \"Tentu saja ini akan memperparah kondisi depresinya. Juga berdampak pada tumbuh kembang anak,\" jelas spesialis kedokteran jiwa itu. Yunias menjelaskan, gejala depresi pada anak sering kali terselubung. Karena itu, jika ada beberapa gejala seperti perubahan perilaku, orang tua lebih baik mengantisipasi. Misalnya, anak menjadi semakin hiperaktif, impulsif, menentang, berkata-kata kasar, marah, murung, menyendiri, melamun, mudah menangis, dan cengeng. Perubahan lain adalah terjadi penurunan prestasi di sekolah. Termasuk mengalami psikosomatis, yaitu anak sering mengeluh sakit kepala, sakit perut, dan muntah. Padahal, saat diperiksakan, tidak ada penyakit yang menyertainya. Hal itu terjadi lantaran anak merasa stres. Ada dua manifestasi depresi pada anak. Pertama, anak menjadi lebih tertutup, sulit berkomunikasi, dan bersosialisasi. Kedua, anak menjadi agresif, nakal, keras kepala, dan pembangkang. \"Dua hal itu sebagai mekanisme kompensasi terhadap stressor ataupun depresi yang dihadapi anak,\" jelasnya. Depresi dibedakan menjadi dua. Depresi ringan yang bisa sembuh dengan perjalanan waktu. Depresi berat memerlukan penanganan terpadu yang meliputi terapi farmakologi akibat ketidakseimbangan neurotransmitter di otak. Juga penanganan psikososial untuk meningkatkan mekanisme pertahanan ego yang adaptif dalam menyelesaikan permasalahan. Termasuk bimbingan dan penyuluhan terhadap orang tua untuk memperbaiki pola interaksi dengan anak. Pada anak dan remaja, dapat diberikan terapi kognitif dengan tujuan untuk menghilangkan pikiran negatif pada anak. Sebaliknya, bisa timbul pikiran positif sehingga anak dapat mengatasi permasalahan dengan lebih baik. Yang lebih parah, anak dengan orang tua pengidap depresi cenderung berisiko lebih dini untuk mengalami depresi. Gejala atau depresi yang dialami anak lebih berat jika dibandingkan dengan anak yang memiliki orang tua normal. Karena itu, orang tua harus menjaga psikologisnya dengan baik supaya tidak mengalami stres atau depresi. (jpnn)
Perubahan Perilaku Tandai Depresi Anak
Selasa 18-02-2014,12:23 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Minggu 17-05-2026,21:47 WIB
Astra Motor Bengkulu Hadirkan Keseruan Couple Ride Bareng Honda Scoopy
Minggu 17-05-2026,20:39 WIB
1.061 Koperasi Kelurahan Merah Putih Resmi Beroperasi, Kota Bengkulu Siap Perkuat UMKM
Minggu 17-05-2026,20:37 WIB
Kementerian PKP Sosialisasikan Program BSPS di Kota Bengkulu, 59 Rumah Terima Bantuan Rp20 Juta
Minggu 17-05-2026,20:32 WIB
Pria ODGJ Diamankan Petugas Satpol PP, Diduga Buat Resah Pengunjung Pasar Minggu
Minggu 17-05-2026,20:22 WIB
Komunitas Scoopy Bengkulu Rayakan Kebersamaan Lewat Couple Tote Bag Painting dan Love Letter Session
Terkini
Senin 18-05-2026,18:36 WIB
Spesial HUT Astra Motor: Beli Motor Honda Bisa Bawa Pulang Emas
Senin 18-05-2026,16:43 WIB
Tepati Janji, Plt Bupati dan Ketua DPRD Rejang Lebong Serahkan Laptop Baru untuk Mahasiswi Korban Kebakaran
Senin 18-05-2026,16:37 WIB
PUPR Kota Bengkulu Bersihkan Drainase Jalan Mawar, Antisipasi Banjir Saat Hujan Deras
Senin 18-05-2026,16:35 WIB
SPJ Fiktif Dana Desa Bungin Terbongkar, Eks Pjs Kades Dituntut Penjara dan Bayar Rp 294 Juta
Senin 18-05-2026,16:31 WIB