Berkat Didikan Keras Ibu dan Wejangan Almarhum Ayah

Sabtu 27-07-2013,09:00 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar

\"Saya rasa filsafat paling menantang,\" paparnya. Dan, dia menyelesaikan program itu pada 2004.

Setelah tamat S-2, Guntur melanjutkan studi doktor di bidang filsafat UI. Program tersebut dia rampungkan setelah berhasil melewati sidang promosi pada 20 Juli lalu. Judul disertasinya Market Justice, Kritik atas Determinasi Pasar Neoklasik. Rencananya pengukuhan doktor Guntur bersamaan dengan sang kakak, Firman, pada Agustus atau setelah Lebaran.

Terhadap ketegaran sang ibu dalam mendidik anak-anaknya, tiga bersaudara itu memiliki pandangan berbeda-beda. Guntur, misalnya, mengaku kehabisan kata-kata untuk menggambarkan rasa kagumnya kepada sang ibu.

\"Tulis saja saya kehabisan kata-kata. Karena kalau saya ucapkan, terlalu sederhana sosok ibu,\" tutur penghobi nonton film itu.

Menurut Firman, ibunya adalah sosok yang luar biasa. Dia lebih banyak bekerja daripada berkata-kata. \"Beliau adalah teladan bagi anak-anaknya,\" ujar dosen yang hobi masak tersebut.

Sementara itu, Donny mengutarakan, sang bunda adalah orang yang rela berkorban demi keluarga. Dia mengatakan, ketika ayah meninggal, ibunya masih muda. \"Kami merelakan dan mendorong ibu untuk menikah lagi. Tetapi, beliau tidak bersedia. Beliau lebih memilih membesarkan anak-anaknya. Itu pengorbanan yang sangat besar,\" papar Donny dengan mata berbinar.

Dia menambahkan, sang ibu tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk sekolah tinggi-tinggi. Tetapi, berbekal prinsip hidup yang ditanamkan sejak anak-anaknya masih kecil, hasilnya luar biasa.

\"Hidup tanpa dibekali ilmu hanya akan menjadi seperti sampah di pinggir jalan. Ilmu yang utama, urusan harta itu ada yang mengatur,\" tandas dia. (*/c5/c10/ari)

Tags :
Kategori :

Terkait