Pada 1988, Donny berkesempatan melanjutkan kuliah di Magister Akuntansi UI hingga 2001. Belum cukup, dia kuliah lagi di Magister Ilmu Politik UI (2002\"2005). Setelah lulus jenjang studi S-2 itu, alumnus SMA Taruna Nusa Harapan, Mojokerto, tersebut melanjutkan studi doktoral di bidang yang sama (Ilmu Politik UI) dan lulus pada 15 Januari 2013. Disertasinya berjudul Hubungan Negara dan Pengusaha di Era Reformasi; Studi Kasus Bisnis Grup Bakrie (2004\"2012).
\"Jadi, saya anak kedua yang pertama meraih gelar doktor,\" jelasnya.
Donny mengungkapkan, wejangan-wejangan ayahnya semasa hidup memberikan dorongan kuat hingga dirinya bisa menuntaskan pendidikan tinggi. Dalam kenangannya, sang ayah benar-benar tegas dalam urusan pendidikan anak-anak.
\"Ibu juga keras untuk urusan pendidikan anak-anak,\" paparnya.
Donny mencontohkan, ibunya lebih senang membelikan buku pelajaran bagi anaknya dibanding membelikan sepatu atau baju. \"Wong baju dan sepatumu masih bisa dipakai kok. Begitu alasan ibu,\" kenang dia.
Tapi, begitu anaknya minta dibelikan buku, sang ibu langsung merespons. Bahkan, ibu rela menggadaikan perhiasan atau sampai berutang.
Kenangan akan nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan sang ayah juga dirasakan Firman. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi UI kelahiran Jember, 31 Januari 1969, itu menyatakan, ayahnya sangat menjunjung tinggi kejujuran dalam urusan pendidikan.
\"Saya tahu prinsip ayah itu dari kakak-kakak. Sebab, saat beliau meninggal, saya masih kecil,\" ujarnya.
Meski begitu, Firman berupaya keras meneladaninya. Mulai kuliah S-1 di Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan IPB (1988\"1993) hingga Magister Manajemen Komunikasi UI (lulus cum laude, 2000\"2002), Firman melaluinya dengan lurus-lurus saja.
\"Untuk pendidikan, harus bersih. Begitu wejangan almarhum ayah,\" tegasnya.
Berkat prestasinya menjadi lulusan terbaik, Firman langsung mendapat tawaran mengajar di UI. Dia tidak mau kehilangan kesempatan langka itu. Tawaran tersebut langsung disambar. Sambil mengajar, Firman melanjutkan studi doktoral di bidang Ilmu Filsafat UI.
Dia dinyatakan lulus setelah menjalani sidang promosi doktor pada 18 Juni dengan judul disertasi Manusia dalam Masyarakat Berjejaring.Ketika perbincangan berlangsung gayeng, beduk salat Magrib terdengar. \"Mari berbuka dulu,\" pinta Firman.
Takjil berupa kolak cendol yang sudah disiapkan langsung disantap. \"Guntur belum juga datang, kurang ramai,\" kata dosen terfavorit versi mahasiswa UI itu.
Beberapa saat kemudian Guntur datang. Tiga bersaudara tersebut tampak klop dengan balutan baju putih. \"Kami tidak janjian mengenakan baju putih lho,\" kata Guntur memulai percakapan.
Sebagai anak bungsu, kisah Guntur tidak terlalu berliku seperti kakak-kakaknya. Hingga menamatkan sarjana ekonomi di UI, Guntur dibiayai ibunya. Tetapi, selepas itu, dia bekerja sebagai konsultan untuk membiayai kuliah lanjutannya.
Pria kelahiran Jember, 11 Mei 1974, tersebut memiliki kisah kuliah yang unik setelah lulus S-1. Guntur tercatat berkali-kali keluar-masuk program magister di UI. Mulai jurusan ekonomi hingga magister filsafat.