Membangun Desa Bengkulu Melalui Pertanian Unggul

Minggu 13-09-2026,13:56 WIB

Dengan demikian, stevia bukan sekadar proyek menanam tanaman baru, tetapi menjadi model pertanian desa berbasis ilmu pengetahuan, teknologi dan pasar.

Gambaran Usahatani

Sebagai simulasi awal, produksi 7 ton daun kering/ha/tahun dengan harga Rp40.000/kg menghasilkan omzet sekitar:

7.000 kg × Rp40.000 = Rp280 juta/ha/tahun.

Dengan asumsi biaya sekitar Rp165 juta/ha/tahun, surplus indikatif mencapai sekitar:

Rp115 juta/ha/tahun.

Ini hanya simulasi. Angka sebenarnya harus diuji melalui demplot dan disesuaikan dengan biaya produksi serta harga kontrak offtaker.

Dari Bengkulu untuk Indonesia

Saya membayangkan kolaborasi Kemendes PDT–Kopassus menjadi momentum membangun desa secara terpadu:

Infrastruktur dibangun → riset dilakukan → komoditas dikembangkan → pasar dijamin → industri mengolah → nilai tambah kembali ke desa.

Sebagai putra daerah Bengkulu, saya berharap pembangunan ini tidak hanya menghasilkan jalan yang lebih baik, tetapi juga kehidupan ekonomi yang lebih baik.

Karena jalan yang baik harus membawa hasil pertanian ke pasar; pasar yang baik harus memberikan harga layak kepada petani; dan industri yang baik harus meninggalkan nilai tambah di desa.

Maka tujuan akhirnya bukan sekadar:

“Membangun desa.”

Tetapi:

“MEMBANGUN DESA YANG MENGHASILKAN.”

Tags :
Kategori :

Terkait