Tati, seorang ibu berusia 54 tahun yang sehari-hari berkebun, mengaku baru pertama kali mengenal ekoenzim. Dia memang selalu memproduksi sampah organik di rumahnya, yang biasanya dia buang ke tempat sampah lalu dibakar. Tati mengatakan tidak sulit untuk membuat cairan ekoenzim dari sampah organik. Setelah membuat cairan ekoenzim dalam pelatihan tersebut, Tati merasa tidak sabar untuk menunggu cairan fermentasi sampah organik yang dia buat dapat berhasil menjadi ekoenzim.
"Kalau soal cairan ekoenzim, saya baru tahu dan baru pertama kali ini, ternyata gampang membuatnya. Nanti kalau sudah jadi, mau saya pakai untuk menyemprot tanaman. Di rumah saya memang selalu ada sampah dari kulit buah dan sayuran. Jadi, nanti saya mau coba bikin," kata Tati.
Sebagian besar masyarakat di Desa Benteng memang berkegiatan sebagai petani kebun untuk tanaman palawija, seperti singkong, jagung, kacang, dan jambu. Neneng (56 tahun) telah memilah sampah di rumahnya sejak tahun 2019 setelah mendapat penyuluhan untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. Hanya saja, selama ini Neneng hanya mengolah sampah organik dari rumahnya untuk menjadi maggot sebagai pakan ikan dan ayam yang dia pelihara.
"Maggot di kolam ikan saya banyak sekali, sampai menumpuk. Bahkan, saking banyaknya maggot yang sudah ada, sampah sisa buah dan sayur dari dapur saya buang begitu saja. Dengan pelatihan (membuat) ekoenzim ini, saya jadi tahu ada cara lain untuk mengolah sampah organik," kata Neneng.
Membuat ekoenzim tidaklah sulit karena hanya memerlukan tiga bahan, yakni sampah organik dari sisa kulit buah dan sayur, molase atau air gula, serta air, masing-masing dengan perbandingan 3:1:10. Sehingga, dengan sisa kulit buah dan sayur seberat 300 gram, maka perlu ditambah dengan molase sebanyak 100 gram dan air satu liter.
Semua bahan itu lalu dimasukkan ke dalam wadah plastik bertutup rapat dan jangan menggunakan wadah kaca, karena fermentasi ekoenzim menghasilkan gas. Sebaiknya, wadah plastik yang dipakai agak lebih besar supaya masih ada ruang untuk gas hasil fermentasi. Seminggu pertama setelah memasukkan semua bahan tersebut ke dalam wadah plastik, sebaiknya tutupnya dibuka sesekali untuk melepaskan gas hasil fermentasi. Kemudian, setelah tiga bulan, cairan ekoenzim tersebut sudah dapat digunakan.
Pelatihan membuat ekoenzim, yang menjadi bagian dari kegiatan Sustainable Journalism Fellowship 2026 oleh CIMB Niaga bersama Indonesian Institute of Journalism, menjadi sangat bermanfaat bagi ibu-ibu di Desa Benteng itu. Salah satu penyuluh di Desa Benteng Titik Mulyati mengatakan pernah memberikan pelatihan serupa dengan dibantu pegiat ekoenzim Siti Maryam.
"Sudah pernah membuat ekoenzim yang biasanya dimanfaatkan untuk mengobati luka, menyemprot tanaman; justru ini ilmu baru karena ternyata cairan ekoenzim bisa untuk membuat sabun cuci piring dan sabun cuci baju. Mudah-mudahan ini bisa diaplikasikan oleh ibu-ibu di Desa Benteng," ujar Titik.
Dengan adanya ekoenzim, sampah ternyata bisa menjadi banyak manfaat, karena dengan cairan serbaguna tersebut, masyarakat menjadi sadar untuk memilah dan mengelola sampah serta menggunakan produk-produk sanitasi alami. Selain itu, dengan membuat ekoenzim secara mandiri, masyarakat dapat mengurangi volume sampah di tempat pembuangan akhir dan dapat membuat sabun cuci lebih alami tanpa harus membeli.
Semoga, ekoenzim dapat dikenal dan diaplikasikan semakin luas dan menjadi solusi hemat bagi masyarakat dengan limbah bermanfaat.(ANTARA)