Cuaca Ekstrem, Nelayan Menganggur, Ikan Mahal, IRT Kurangi Masak Ikan

Selasa 08-09-2020,19:34 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Badai yang terjadi beberapa minggu ini membuat nelayan enggan pergi melaut. Angin kencang dan gelombang tinggi membuat kondisi perairan sulit untuk dilayari.

“Untuk saat ini ketinggian gelombang sudah hampir 3 meter,” ucap Tamrin (50), seorang nelayan di Pondok Besi, Bengkulu kepada BE, Selasa (8/9).

Tamrin mengaku baru seminggu ini ia kembali pergi melaut setelah hampir 3 bulan lamanya tidak pergi melaut. Dalam minggu ini ia hanya mendapatkan penghasilan kurang lebih Rp 50 ribu per hari. Bahkan pernah tidak mendapatkan hasil sama sekali. Hal ini berjarak jauh dari penghasilan dikondisi normalnya yang bisa mendapatkan Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu perharinya.

“Susah dapat ikan kalau kondisi cuaca seperti ini bang. Jangankan balik modal bensin, justru malah rugi karna tidak dapat ikan sama sekali. Tapi ya bagaimana, kalau tidak dicoba begini saya tidak enak dengan orang rumah,” tambah Tamrin.

Disisi lain, Arpan (50), seorang nelayan lainnya mengaku sampai saat ini belum ingin pergi melaut karena merasa percuma.  “Benar-benar menganggur. Dapat capek saja kalau pergi melaut sekarang mas. Belum lagi, saya yakin jaring pasti banyak yang hilang kalau kondisi cuaca begini mas,” ungkap Arpan.

Para nelayan mengaku sampai sekarang masih belum ada suara dari pemerintah mengenai keresahan nelayan akan kondisi badai ini. Bahkan sejak panasnya kasus Covid-19 beberapa bulan yang lalu.

“Harapannya pemerintah lebih peduli lagi dengan kondisi masyarakat kecil seperti nelayan di tengah kondisi Badai dan Covid-19 ini. Hendaknya ada sosialisasi berupa bantuan bahan pokok atau semacamnya,” harap Arpan.

Enggannya nelayan untuk pergi melaut karena kondisi cuaca yang ekstrim seperti ini tak luput berefek pada harga ikan di pasar. Apriansyah(25), seorang pedagang ikan di Pasar Minggu, Kota Bengkulu menjelaskan beberapa harga ikan yang naik dalam seminggu ini.

“Ikan kape-kape kini harganya Rp 30 ribu/Kg dari yang awalnya Rp20 ribu/Kg. Ikan tenggiri kini harganya Rp 40 ribu/Kg dari yang awalnya Rp 30 ribu/Kg. sedangkan ikan beledang kini harganya mencapai Rp30 ribu/Kg dari yang awalnya Rp20-25 ribu/Kg,” jelas Apriansyah kepada BE.

Disisi lain, secara otomatis hal ini juga menyebabkan konsumen mengeluh. Esti Margaretta (44), seorang ibu rumah tangga di Gang Juwita, Unib Belakang mengungkapkan harus mengurangi masakan ikan di dalam daftar menu makanan keluarganya.

Jika biasanya, dalam sebulan Margaretta bisa menyediakan menu masakan ikan bagi keluarganya sebanyak 4-6 kali, kini ia hanya bisa menyediakan masakan ikan sebanyak 2-3 kali dalam sebulan.

“Harga ikan kan mahal, jadi saya lebih sering masak tahu, tempe dan telur sebagai penggantinya untuk sekarang ini,” ungkap Margaretta kepada BE. (Mg5).

Tags :
Kategori :

Terkait