BI Serahkan Combine Harvester ke Petani Mukomuko, Ini Manfaatnya
BI Serahkan Combine Harvester ke Petani Mukomuko--
BENGKULUEKSPRESS.COM – Petani padi di Kabupaten Mukomuko mendapat dukungan teknologi pertanian untuk menekan biaya produksi. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bengkulu menyerahkan satu unit mesin panen padi atau combine harvester kepada Kelompok Tani Mekar Sari di Desa Tirta Mulya, Rabu (4/11/2026).
Bantuan tersebut bukan sekadar menghadirkan alat pertanian modern. Penggunaan mesin panen ini diperkirakan mampu menghemat biaya hingga Rp2,3 juta per hektare dibandingkan panen secara manual.
Wakil Gubernur Bengkulu, Mian, mengatakan pemanfaatan teknologi pertanian menjadi salah satu cara untuk membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi beban biaya saat musim panen.
Menurutnya, modernisasi pertanian perlu terus didorong agar pekerjaan petani semakin efisien dan hasil produksi pangan dapat ditingkatkan.
BACA JUGA:Kapolda Bengkulu Tegas, Polisi Dilarang Jadi Beking Tambang dan Perkebunan Ilegal
BACA JUGA:PAD Mukomuko Mendekati 82 Persen, BKD Optimistis Lampaui Target 2026
“Petani kita membutuhkan dukungan yang bisa dirasakan langsung di lapangan. Dengan adanya mesin panen ini, pekerjaan menjadi lebih cepat, biaya bisa ditekan, dan petani memiliki kesempatan untuk meningkatkan hasil usahanya,” kata Mian.
Penyerahan bantuan dilakukan bersama Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat. Kegiatan tersebut juga dihadiri Bupati Mukomuko Choirul Huda dan Wakil Bupati Mukomuko Rahmadi AB.
Mian menjelaskan, salah satu keuntungan utama penggunaan *combine harvester* adalah penghematan biaya panen.
Panen padi secara manual dapat menghabiskan biaya sekitar Rp3 juta per hektare. Sementara itu, penggunaan mesin membutuhkan biaya bahan bakar sekitar Rp200.000 untuk sembilan liter dan upah operator sebesar Rp500.000.
Dengan perhitungan tersebut, total biaya panen menggunakan mesin diperkirakan hanya Rp700.000 per hektare.
Artinya, petani berpotensi menghemat sekitar Rp2,3 juta untuk setiap hektare lahan yang dipanen.
“Kalau biasanya panen manual membutuhkan biaya sekitar Rp3 juta per hektare, dengan mesin ini diperkirakan cukup Rp700 ribu. Selisihnya cukup besar dan tentu bisa membantu mengurangi pengeluaran petani,” jelas Mian.
Selain menghemat biaya, mesin tersebut juga mampu memangkas waktu pengerjaan. Panen satu hektare lahan yang biasanya membutuhkan dua hingga tiga hari secara manual, dapat diselesaikan menggunakan *combine harvester* dalam waktu sekitar 1,5 hingga 2,5 jam.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
