Banner HONDA

LDII Dorong Jurnalis Perkuat Pemberitaan Positif di Era Post-Truth

LDII Dorong Jurnalis Perkuat Pemberitaan Positif di Era Post-Truth

LDII mendorong jurnalis memperkuat pemberitaan positif yang faktual dan berimbang di tengah maraknya hoaks serta framing negatif di era post-truth.--

BENGKULUEKSPRESS.COM – Derasnya arus informasi di era post-truth menjadi tantangan bagi insan pers. Di tengah maraknya hoaks, fitnah, dan informasi dengan framing negatif, jurnalis dituntut tetap menghadirkan berita yang faktual, berimbang, dan memberikan edukasi kepada masyarakat.

Ketua DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), H. Rulli Kuswahyudi, S.Sos., mengatakan media memiliki peran strategis dalam menangkal informasi menyesatkan sekaligus menjaga kualitas informasi yang diterima publik.

Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar (PJMD) yang diikuti kader LDII dari seluruh Provinsi Bengkulu.

Menurut Rulli, karakter informasi di era post-truth membuat kabar negatif cenderung lebih cepat menarik perhatian masyarakat. Informasi yang mengandung konflik, kontroversi, maupun sensasi dinilai lebih mudah menjadi viral.

“Di era post-truth ini berlaku lagi bad news is good news. Orang berbuat baik itu biasa-biasa saja, tetapi ketika ada orang berbuat jelek, itu justru menjadi berita yang sangat viral,” kata Rulli.

BACA JUGA:Semarak Hari Pelanggan Nasional 2026, Astra Motor Bengkulu Gelar Rolling City dan Customer Gathering

BACA JUGA:Polres Bengkulu Utara Bongkar 7 Kasus Narkoba, Transaksi Sabu via WhatsApp dan COD

Rulli menilai fenomena tersebut tidak terlepas dari kecenderungan masyarakat yang lebih tertarik terhadap informasi yang mengandung konflik, sensasi, maupun drama.

Kondisi itu, menurutnya, menjadi tantangan bagi insan pers agar tidak terjebak pada pemberitaan yang semata-mata mengejar perhatian publik.

Sebab, pemberitaan yang tidak berimbang, terlebih informasi palsu, dapat membentuk opini publik sekaligus melahirkan stigma terhadap seseorang maupun organisasi.

“Berita hoaks, berita fitnah masih banyak. Kita tidak bisa menutup mata terhadap itu. Karena itu, teman-teman media memiliki peran penting untuk menghadirkan informasi yang benar dan berimbang,” ujarnya.

Rulli juga menyinggung LDII yang menurutnya selama bertahun-tahun kerap menjadi sasaran framing dan stigma negatif. Ia menilai kondisi tersebut menjadi contoh bagaimana persepsi publik dapat terbentuk dari informasi yang terus berulang tanpa mempertimbangkan perkembangan dan fakta terkini.

“LDII juga menjadi korban dari era post-truth, menjadi korban framing. Ada stigma yang bertahun-tahun melekat. Misalnya LDII identik dengan hal-hal tertentu. Padahal teman-teman media bisa melihat sendiri kondisi LDII hari ini,” katanya.

Karena itu, ia mengajak jurnalis memperbanyak pemberitaan positif yang tetap berpegang pada fakta. Menurutnya, pemberitaan negatif tidak harus dilawan dengan mengabaikan fakta, tetapi dengan menghadirkan informasi yang lebih lengkap, berimbang, dan menunjukkan berbagai sisi dari sebuah persoalan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: