Banner HONDA
BPBD

Dugaan Kekerasan Saat Pemira, GMNI–HMI Bengkulu Bersatu Desak Klarifikasi Rektorat Unived

Dugaan Kekerasan Saat Pemira, GMNI–HMI Bengkulu Bersatu Desak Klarifikasi Rektorat Unived

Dugaan Kekerasan Saat Pemira, GMNI–HMI Bengkulu Bersatu Desak Klarifikasi Rektorat Unived-IST-

BENGKULUEKSPRESS.COM - Dinamika demokrasi kampus diwarnai kabar tak sedap. Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bengkulu bersama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bengkulu menyatakan sikap tegas menyusul dugaan tindakan penganiayaan yang disebut melibatkan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Dehasen Bengkulu saat pelaksanaan Pemilihan Raya (Pemira) di lingkungan kampus.

Insiden yang terjadi di tengah momentum demokrasi mahasiswa itu disebut-sebut memicu ketegangan. Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi, dugaan tindakan kekerasan dilakukan menggunakan dua tongkat milik petugas keamanan (satpam). Peristiwa tersebut sontak memantik solidaritas lintas organisasi kemahasiswaan di Bengkulu.

Ketua DPC GMNI Bengkulu, Restu Alam, menilai jika dugaan tersebut benar terjadi, maka hal itu menjadi preseden buruk bagi kehidupan akademik.

“Momentum pemira adalah ruang belajar demokrasi. Jika diwarnai kekerasan, ini kemunduran serius. Bila terbukti ada penganiayaan terhadap kader kami, maka ini bukan hanya pelanggaran etik, tetapi berpotensi masuk ranah pidana dan akan kami proses secara hukum,” tegasnya.

Nada serupa disampaikan Ketua Umum HMI Cabang Bengkulu, Muhammad Bintang. Ia menegaskan komitmen organisasinya untuk mengawal persoalan tersebut hingga tuntas.

“Kampus adalah ruang intelektual dan demokrasi, bukan tempat intimidasi. HMI tidak akan tinggal diam jika kader kami menjadi korban kekerasan. Kami siap menempuh jalur hukum bersama GMNI,” ujarnya.

BACA JUGA:12 Jam Tanpa Skrip, 'Beghusik Ghumah Nggi' Season 2 Jadi Ruang Nongkrong Digital Penuh Inspirasi

BACA JUGA:Hoaks! Berita Catut Nama Rakyat Bengkulu, Sebarkan Screenshot Wanita Video Call

Kedua organisasi mendesak pihak rektorat segera menyampaikan klarifikasi terbuka kepada publik guna menghindari spekulasi yang berkembang. Mereka juga meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan dan tata kelola pelaksanaan pemira agar kejadian serupa tidak terulang.

Sebagai langkah lanjutan, GMNI dan HMI menyatakan siap mendampingi korban untuk membuat laporan resmi kepada aparat penegak hukum apabila diperlukan.

Pernyataan sikap bersama ini ditegaskan sebagai komitmen menjaga marwah dunia pendidikan. Bagi mereka, kampus harus tetap menjadi ruang aman bagi dialektika dan demokrasi tanpa bayang-bayang kekerasan.(**)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: