Pasangan Pacaran Sudah bikin Tabungan Bersama, Bagus gak sih?

Pasangan Pacaran Sudah bikin Tabungan Bersama, Bagus gak sih?

BEBERAPA pasangan yang masih pacaran memutuskan untuk membuat tabungan bersama. Kalau lancar, itu menjadi strategi bagus untuk melakoni rumah tangga. Namun, seperti kata pepatah, sebelum janur melengkung, tetap ada kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi.

Memang, modal berumah tangga tentu harus dipersiapkan jauh hari. Agar tidak terlambat, banyak pasangan muda yang menabung sejak masih berpacaran.

Salah seorang di antaranya Gladys Claudia dan tunangannya, Zefanya Widyasmoro. Pasangan yang berpacaran sejak Mei 2013 itu memutuskan untuk membuat tabungan bersama setelah bertunangan tahun lalu.

”Kalau belum ada ikatan, ya enggak berani, haha. Semua inisiatif Mas Fanya,” ungkap Gladys. Pemikiran awalnya adalah untuk memanajemen keuangan.

Gladys merasa, pria lebih matang untuk perencanaan finansial jangka panjang, sedangkan perempuan pandai mengatur keseharian. Karena itu, mereka belajar mulai sekarang untuk berkolaborasi. Harapannya, saat menikah, mereka enggak kaget. ”Otak semua di dia. Persentase mau dipakai apa saja. Aku badannya, pelaksana,” ungkap Gladys.

Mereka mengawali dari cara yang paling sederhana, membuat rekening bersama yang kemudian diisi penghasilan masing-masing yang disisihkan. Lama-lama meningkat dengan memiliki ’’sharing account’’ secara total.

Seluruh pemasukan dikumpulkan menjadi milik bersama. ”Nanti diatur persentasenya buat apa saja. Dibagi kebutuhan sehari-hari, beli mobil, dan tabungan,” jelas gadis berusia 25 tahun itu. Urusan rumah sudah beres. Ketika memulai menabung, ada empat hal yang mereka sepakati. Yakni, tujuan harus jelas, keterbukaan, toleransi, dan pemikiran yang realistis.

Dahulu Gladys sangat maniak membeli sepatu. Dengan uang sendiri, gampang saja membelinya. Namun, dengan tabungan bersama, dia belajar pemikiran lain.

Pasangan yang akan menikah Desember tahun ini tersebut tidak menabung untuk mencari modal resepsi. Yang mereka persiapkan justru kehidupan saat berumah tangga. Hal-hal semacam itulah yang menjadi modal nikah secara batin. Bagaimana suami dan istri terbuka soal pendapatan, tidak saling memaksakan kehendak, tidak pelit kepada pasangan dan paham kebutuhan masing-masing.

Hal senada juga diungkap Endah Dian yang baru saja menikah dengan Ridho Kusuma, 10 Mei. Berpacaran sejak 2010, Ridho menyatakan keseriusannya untuk melamar Endah pada 2013. Sebelum bertunangan, mereka membuat tabungan bersama atas nama Endah. Nominalnya memang lebih banyak Ridho karena merasa memiliki tanggung jawab lebih besar.

Tabungan itu rencananya untuk membeli rumah. ”Supaya orang tua tenang, anak sudah berkeluarga ya punya rumah sendiri,” jelas Endah yang mulai hunting lokasi. Tabungan tersebut sedikit banyak juga membantu pernikahan mereka kemarin untuk keperluan seserahan. Yang lainnya digunakan untuk kebutuhan mendesak.

Bagi Endah, punya tabungan bersama atas inisiatif sang pacar sangat bermanfaat. Transparansi dan toleransi soal keuangan dilatih sejak pacaran. Dengan demikian, saat berumah tangga, kondisinya tidak jauh berbeda. ”Dari situ aku juga tahu, laki-laki yang melamarku ini punya pikiran matang, visi misi ke depan yang jelas, dan bertanggung jawab,” kata finalis Ning Suroboyo 2009 tersebut.

Ada kisah happy ending. Ada juga yang tidak. Sudah serius menjalin hubungan dan merencanakan pernikahan, setelah dua tahun ternyata harus berpisah. Kisah itu dialami pasangan Sierra dan Oscar (bukan nama sebenarnya).

Pasangan muda di ibu kota, sama-sama bekerja dengan posisi yang oke dan bergaji dua digit, keduanya sepakat membuat account baru di bank yang dijadikan tabungan bersama. Tujuannya persiapan menikah. Setiap bulan masing-masing mentransfer sejumlah uang ke account tersebut.

ATM dan buku tabungan dipegang Sierra. Selain itu, dia melakukan pencatatan manual sesuai jumlah yang ditabung dirinya dan Oscar setiap bulan. Keduanya bersemangat menabung demi masa depan yang dirajut bersama. Dalam kurun waktu dua tahun, jumlah tabungan yang mereka kumpulkan cukup besar, mencapai ratusan juta rupiah.

Namun, seperti kata pepatah bahwa jodoh di tangan Tuhan, tidak ada yang bisa menerka apa yang akan terjadi besok. Cita-cita melangkah ke pelaminan urung kesampaian. Karena alasan yang tidak ingin disampaikan, hubungan itu kandas.

Awalnya, sama-sama canggung. Komunikasi putus. Sekitar satu bulan kemudian, Sierra menghubungi sang mantan untuk membicarakan pembagian tabungan bersama.

”Karena ATM dan tabungan di saya, kami lalu duduk bareng khusus untuk membicarakan hal itu. Buku tabungan di-print. Saya cocokkan dengan catatan saya, lalu kami hitung bareng-bareng dengan bunganya. Dibagi dengan fair,” tutur perempuan 27 tahun itu.

Keduanya berusaha profesional, mengesampingkan urusan hati yang masih berkecamuk agar permasalahan finansial itu terselesaikan dengan baik. Tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

”Jumlah tabungannya cukup besar ya. Dan memang ada bagian hak dia. Setelah urusan tabungan selesai, lebih lega melangkah,” lanjutnya. (nor/c6/dos)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: