Keluarga Sulsel Tak Menampung Teroris

Keluarga Sulsel Tak Menampung Teroris

BENGKULU, BE - Ketua Keluarga Kerukunan Sulawesi Selatan (KKSS) Provinsi Bengkulu, Ambo Caming, mengimbau kepada 10 ribu warga KKSS di Bengkulu untuk tidak menampung teroris maupun keluarganya. Imbauan ini menyusul ditangkapnya Ambo Intang yang belum lama ini sebagai tersangka dan diketahui sebagai anggota jaringan teroris. Selama ini ia masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Ambo Intang ditangkap di Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum kilometer 6.5 Jalan P Natadirja, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu. \"Dia bukan anggota kami. Dia pelarian dari Poso. Tapi memang nama Ambo Intang itu umumnya nama Bugis. Untuk mewaspadai hal ini, saya sudah serukan kepada semua anggota agar tidak menampung teroris dan keluarganya,\" ucapnya mantap, belum lama ini. Ambo bahkan menegaskan kepada anggota KKSS untuk bersikap proaktif bilamana menemukan adanya gelagat teroris di sekitar mereka. Ia memantapkan, imbauan tersebut juga berlaku bagi warga Bugis di Provinsi Bengkulu. \"Kami bertekad untuk ikut serta dalam pemberantasan terorisme,\" sampainya. Menurutnya, sejumlah daerah selalu berpotensi dijadikan sebagai tempat pelarian teroris. Karenanya, ia juga mengajak kepada para organisasi kedaerahan lainnya untuk bersama pemerintah menghidupkan keamanan di lingkungan masing-masing. Sebelumnya terlansir, Ambo Intang merupakan anggota Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso dan Sabar Subagyo. Dia diduga terlibat pembunuhan dua Anggota Intel Polres Poso (Bripka Andi Sapa danĀ  Aipda Sudirman) di Tamanjeka. Selain itu, tersangka juga mengikuti pelatihan militer di Tamanjeka Poso. Tak Tahu Ada Penyergapan Polda Bengkulu mengakui kalau jajarannya memang tidak mengetahui operasi penangkapan tersangka teroris Ambo Intang yang ditangkap Densus 88 Rabu (19/3) di SPBU KM 6,5. Densus 88 bergerak sendiri tanpa adanya campur tangan Polda Bengkulu. \"Memang informasi penangkapan kemarin memang minim. Siapa yang akan ditangkap, siapa sasarannya, kita tidak tahu. Karena penanganannya memang khusus dari Densus 88,\" kata Kabid Humas Polda Bengkulu AKBP Herry Wiyanto SH. Minimnya informasi tersebut karena struktur dari organisasi Polda Bengkulu yang tidak ada Densus 88. Densus 88 ini sendiri di pegang kendali oleh Mabes Polri dan di Sumatera sendiri dikoordinir dari Palembang, Sumsel. \"Karena hal inilah Polda Bengkulu minim data dan informasi tentang adanya teroris,\" ucapnya. Pun begitu Polda Bengkulu tidak tinggal diam. Polda Bengkulu siap mengantisipasi teroris yang akan masuk Bengkulu. Terutama bagi orang-orang yang baru masuk dan tak dikenal di Bengkulu. \"Kami sudah antisipati sebelumnya, para intelkam dan jajaran kami lainnya siapkan untuk lebih menyelidiki hal ini,\" ujarnya. Imbauan tersebut bagi ketua RT serta ikut peran masyarakat karena para teroris tersebut lebih dekat terhadap masyarakat. \"Kita tidak pernah menemui DPO para teroris mereka hanya daftar pencarian para Densus saja, jadi sulit bagi kita untuk identifikasi para teroris tersebut,\" tuturnya. (cw3/009)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: